Batang (lingkarjateng.id) – Kabupaten Batang memiliki warisan budaya tak benda yakni berupa Batik Rifaiyah. Ironisnya, eksistensi keberadaannya yang sudah berusia lebih dari satu abad itu dipengaruhi akan kondisi krisis regenerasi saat ini.
Hal tersebut terungkap dalam salah satu kegiatan workshop bertajuk Menyelamatkan Eksistensi Batik Rifaiyah Kabupaten Batang yang dilakukan di salah satu tempat Joglomberan di Batang, Rabu (29/4) siang.
Workshop tersebut mempertemukan antara perajin, pegiat literasi, komunitas budaya, hingga pemerintah daerah dalam membedah masa depan batik bercorak religius yang kini berada di titik rawan.
Isu utama yang mengemuka bukan sekadar produksi, melainkan krisis regenerasi pembatik yang perlahan menggerus eksistensi Batik Rifaiyah. Sejumlah motif bahkan dilaporkan hilang, terkubur bersama wafatnya para pembatik sepuh yang tak sempat mewariskan keahliannya.
Penggiat Batik Rifaiyah, menyebut workshop ini sebagai suntikan energi baru di tengah kekhawatiran yang terus membesar. “Ini menjadi support system yang sangat bagus demi kemajuan batik Rifaiyah, sebab kita tidak bisa berdiri sendiri,” ujar Miftahudin penuh optimis.
Miftahudin menegaskan, kekuatan komunitas harus berjalan beriringan dengan dukungan eksternal agar semangat membatik tidak padam di generasi berikutnya. “Ke depan kami ingin tetap mengonsolidasikan teman-teman agar terus semangat membatik Rifaiyah,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Dekranasda Batang, Faelasufa Faiz, menyoroti nilai unik Batik Rifaiyah yang tidak dimiliki batik lain di Nusantara. Sebab, prosesnya sambil melantunkan sholawat, menjadikannya bukan sekadar produk tekstil batik, tetapi juga praktik spiritual.
“Batik Rifaiyah ini unik sekali karena dari awal sampai akhir pengerjaan diiringi shalawat,” ungkap Faelasufa yang merupakan istri dari Bupati Batang M Faiz Kurniawan ini.
Meski memiliki akar sejarah lebih dari satu abad, lanjut Faelasufa, Batik Rifaiyah baru memasuki pasar secara luas sekitar tahun 2010-an. Hal itu membuat usia komersialnya relatif muda, meski secara kultural sudah lama mengakar di masyarakat.
Sayangnya dibalik keunikan itu, ancaman kepunahan semakin nyata. Data yang dihimpun menunjukkan, dari sekitar 24 motif yang pernah ada pada awal 2000-an, kini hanya tersisa sekitar 16 motif yang masih bisa ditemukan.
“Motif yang hilang itu karena sesepuh pembatiknya sudah meninggal dan tidak ada yang meneruskan,” kata Faelasufa.
“Fenomena ini menjadi peringatan keras bahwa pelestarian tidak cukup hanya pada produksi, tetapi juga pada transfer pengetahuan lintas generasi,” imbuhnya.
Pemerintah daerah melalui Dekranasda menyebut telah mulai mengambil langkah konkret, termasuk mendokumentasikan motif yang tersisa agar tidak hilang sepenuhnya. “Promosi Batik Rifaiyah terus didorong melalui berbagai event nasional seperti Inacraft untuk meningkatkan nilai ekonomi produk,” jelasnya.
Dikatakan, strategi ini dinilai penting karena daya tarik ekonomi menjadi salah satu kunci utama menarik minat generasi muda untuk terjun ke dunia membatik. “Kalau nilai ekonominya naik, anak muda akan melihat ini sebagai peluang, bukan sekadar tradisi,” tandasnya.
Faelasufa menekankan pentingnya keterbukaan komunitas terhadap regenerasi, termasuk membuka akses belajar bagi masyarakat di luar kelompok Rifaiyah. “Kalau tidak terbuka, risiko kepunahannya semakin besar,” tegasnya.***
Editor : Fian





























