JEPARA, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menyiapkan anggaran Rp5,9 miliar untuk memperkuat penanganan kekeringan dengan membangun infrastruktur air bersih permanen di sejumlah desa rawan terdampak musim kemarau. Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan sumur bor dan jaringan pipanisasi selain bantuan darurat berupa dropping air bersih.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, mengatakan pada 2026 pemerintah daerah mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,7 miliar untuk program penanganan kekeringan permanen. Dana tersebut berasal dari CSR Bank Jateng sebesar Rp450 juta dan APBD Kabupaten Jepara senilai Rp1,297 miliar.
“Jadi selain penanganan darurat menggunakan dropping air bersih, Pemkab Jepara juga serius menangani kekeringan secara permanen melalui pembangunan sumur bor dan pipanisasi di desa-desa rawan kekeringan,” katanya, Sabtu, 9 Mei 2026.
Menurut Arwin, program tersebut akan dilanjutkan pada 2027 dengan tambahan anggaran sebesar Rp4,26 miliar untuk menyelesaikan pembangunan di sejumlah wilayah yang masih membutuhkan penanganan.
Beberapa lokasi yang menjadi sasaran program meliputi Desa Clering dan Desa Sumberrejo di Kecamatan Donorojo, Desa Bategede di Kecamatan Nalumsari, Desa Kunir di Kecamatan Keling, Desa Temiliar, Desa Kepuk, dan Desa Banjaran di Kecamatan Bangsri, serta Desa Cepogo di Kecamatan Kembang.
Arwin menjelaskan, sebagian proyek sudah mulai rampung pada tahun ini, terutama pembangunan jaringan air bersih di beberapa desa prioritas.
“Untuk tahun 2026, pipanisasi di Desa Kunir dan penyambungan jaringan air bersih di Desa Bategede sudah selesai. Sedangkan wilayah lainnya baru penanganan sebagian dan akan dilanjutkan pada 2027,” jelasnya.
Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur air bersih permanen menjadi bentuk komitmen pemerintah daerah dalam mengurangi dampak kekeringan yang rutin terjadi setiap musim kemarau.
“Dari Pemerintah Kabupaten Jepara betul-betul serius untuk menangani kekeringan secara permanen, sehingga masyarakat nantinya tidak lagi bergantung sepenuhnya pada dropping air bersih saat musim kemarau,” pungkasnya.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Rosyid































