CILACAP, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten Cilacap memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) menjelang musim kemarau 2026.
Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Persiapan Menghadapi Musim Kemarau Tahun 2026 Tingkat Kabupaten Cilacap yang berlangsung di Aula BPKAD Kabupaten Cilacap, Rabu, 6 Mei 2026.
Rakor dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Cilacap, Sumbowo, yang hadir mewakili Plt Bupati Cilacap. Kegiatan ini turut dihadiri anggota DPRD Purwati, unsur Forkopimda, Forkopimcam, serta elemen pentahelix lainnya.
Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sumbowo, Plt. Bupati Cilacap menegaskan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana di wilayah yang dikenal memiliki potensi bencana cukup kompleks.
“Memasuki musim kemarau tahun ini, kita harus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak seperti krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan, hingga menurunnya produktivitas pertanian. Semua ini membutuhkan langkah antisipatif yang cepat, tepat, dan terkoordinasi melalui sinergi unsur Pentahelix,” ujar Sumbowo membacakan sambutan Bupati.
Sumbowo berharap seluruh pemangku kepentingan mampu memperkuat koordinasi dan menyamakan persepsi dalam menghadapi dampak musim kemarau.
“Kemudian kepada para Camat, Forkopimcam, Kepala Desa, dan Lurah, saya minta untuk terus memantau kondisi wilayah masing-masing serta mengambil langkah cepat dan tepat apabila terjadi persoalan akibat musim kemarau,” pesannya.
Sumbowo juga mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga semangat gotong royong dan kepedulian sosial dalam menghadapi potensi bencana di Kabupaten Cilacap.
“Semangat gotong royong dan kepedulian sosial seperti inilah yang harus terus kita jaga dan tingkatkan. Mari kita bersama-sama berdoa agar Kabupaten Cilacap senantiasa diberikan keselamatan, dijauhkan dari berbagai bencana, serta masyarakatnya selalu diberikan kesehatan dan kesejahteraan,” pungkasnya.
Kekeringan Diprediksi Berlangsung Mei-Akhir Tahun
Sementara itu, Forecaster Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Adnan Dendy Mardika, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer saat ini menunjukkan potensi terjadinya fenomena El Nino pada periode Mei–Juli 2026. Selain itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif diperkirakan berlangsung mulai Mei hingga akhir tahun 2026.
“Suhu permukaan laut di wilayah selatan Jawa cenderung mendingin mulai awal Juni, yang berdampak pada menurunnya curah hujan di wilayah pesisir. Secara umum, musim kemarau di Cilacap dimulai pada Mei dasarian II dan memiliki sifat di bawah normal, artinya akan terasa lebih kering dibanding biasanya,” jelas Adnan.
Berdasarkan prediksi BMKG, awal musim kemarau di Cilacap dimulai dari wilayah timur pada Mei dasarian II. Sementara puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dengan durasi sekitar 14 hingga 18 dasarian atau sekitar enam bulan, lebih panjang dibanding kondisi normal.
BMKG juga memberikan sejumlah rekomendasi untuk menghadapi musim kemarau, di antaranya penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan dan berumur pendek, optimalisasi pemanfaatan air irigasi, hingga penggunaan sistem peringatan dini berbasis pemantauan hotspot satelit. Selain itu, patroli di wilayah rawan kebakaran dan sosialisasi larangan pembakaran lahan juga diminta untuk ditingkatkan.
“Perlu dilakukan juga persiapan suplai air bersih melalui tangki air oleh pemerintah maupun masyarakat untuk wilayah rawan kekeringan,” tambah Adnan.
Menanggapi prediksi itu, Plt Sekretaris BPBD Kabupaten Cilacap, Purwanto Kurniawan, memaparkan kesiapan personel dan logistik yang telah disiapkan. Berdasarkan hasil asesmen, terdapat 13 kecamatan dan 81 desa di Cilacap yang masuk kategori rawan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan.
“Untuk itu, BPBD telah menyiagakan personel dan sarana prasarana pendukung, yakni 69 personel disiagakan, tersebar di kantor induk dan UPTD PKBD Cilacap, Kroya, Sidareja, serta Majenang. Logistik Air Bersih tersedia alokasi sebanyak 250 tangki air bersih untuk dropping di wilayah terdampak kekeringan. Kemudian disiapkan 15 unit pompa pemadam, 7 unit light tower, 3 unit armada tangki air, dan 20 unit tandon air (reservoir) dan beberapa peralatan penunjang lainnya,” terang Purwanto.
Perwakilan DPRD Cilacap, Purwanti, mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Cilacap yang menggelar rakor kesiapsiagaan tersebut. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada BPBD dan para relawan yang selama ini aktif membantu masyarakat saat terjadi bencana.
“Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan selalu membersamai masyarakat Kabupaten Cilacap. Harapan dari kami, Pemerintah Kabupaten Cilacap bisa mencari solusi khususnya untuk desa-desa yang selalu mengalami kekeringan pada musim kemarau agar bisa memanfaatkan potensi alam di wilayah masing-masing agar dampak kemarau bisa berkurang disana,” usulnya.
Editor: Sekar































