SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) mempercepat upaya penanganan persoalan sampah melalui proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang masuk dalam program prioritas nasional. Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara pemerintah daerah dan Danantara di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin, 11 Mei 2026.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menghadiri langsung penandatanganan kerja sama mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Dalam tahap awal, kawasan aglomerasi Semarang Raya yang mencakup Kota Semarang dan Kabupaten Kendal ditetapkan sebagai proyek strategis pertama di Jawa Tengah. Adapun lokasinya ditetapkan di TPA Jatibarang Semarang.
Menurut pria yang akrab disapa Gus Yasin itu, pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik akan membantu mengurangi persoalan penumpukan sampah di Kota Semarang dan Kabupaten Kendal.
“Alhamdulillah, hari ini sudah ada penandatanganan. Tadi arahan dari Pak Menko Pangan, pembangunannya akan segera dilakukan. Ini akan sangat membantu mengurangi persoalan sampah yang ada di Kota Semarang dan Kabupaten Kendal,” katanya.
Ia menegaskan, Pemprov Jawa Tengah juga telah mengusulkan sejumlah kawasan aglomerasi lain agar masuk tahap pengembangan berikutnya, seperti Pati Raya, Tegal Raya, dan Pekalongan Raya.
“Kami juga mengusulkan aglomerasi lain di Jawa Tengah seperti Pati Raya, Tegal Raya, dan Pekalongan Raya. Ini harus kita sinergikan bersama agar persoalan sampah di Jawa Tengah benar-benar bisa selesai sesuai arahan Presiden, yakni menuju zero sampah,” ujarnya.
Dalam skema yang disiapkan, penanganan sampah dilakukan melalui dua jalur. Sampah baru akan diolah menjadi energi listrik melalui fasilitas PSEL yang dibangun Danantara, sementara timbunan sampah lama akan diproses menjadi bahan bakar solar melalui kerja sama dengan TNI.
“Dua-duanya bisa berjalan bersama. Sampah baru diolah menjadi listrik, sementara sampah lama kita ubah menjadi fuel atau solar. Jadi persoalan sampah bisa kita tangani dari dua sisi sekaligus,” katanya.
Ia menilai pendekatan tersebut tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga mendukung kebutuhan energi nasional.
“Kita tahu persoalan sampah sudah menumpuk di banyak kabupaten/kota dan menjadi masalah bersama. Di sisi lain kita juga membutuhkan energi yang kuat. Jadi ini bagaimana mengubah musuh menjadi teman,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan proyek pengolahan sampah menjadi energi merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto guna mengatasi kondisi darurat sampah nasional.
“Presiden berkali-kali menegaskan, kita tidak mungkin menjadi negara maju kalau persoalan sampah saja tidak bisa kita selesaikan. Sampah ini menyebabkan polusi tanah, air, udara, dan mengancam kesehatan masyarakat,” kata pria yang akrab disapa Zulhas itu.
Ia menjelaskan, pemerintah memprioritaskan penanganan 25 lokasi darurat di 62 kabupaten/kota dengan timbunan sampah lebih dari 1.000 ton per hari. Targetnya, seluruh titik darurat tersebut mulai terselesaikan dalam tiga tahun ke depan.
“Administrasi kita targetkan selesai enam bulan, pembangunan dua tahun. Tahun 2027 separuh selesai, Mei 2028 seluruh titik darurat selesai,” tegasnya.
Program percepatan itu dijalankan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Heru Djatmika, menyebut proyek di TPA Jatibarang menjadi kebutuhan mendesak mengingat tingginya volume sampah yang terus menumpuk.
Menurutnya, fasilitas PSEL di TPA Jatibarang nantinya akan mengolah sekitar 1.100 ton sampah baru per hari menjadi listrik, terdiri dari 1.000 ton sampah asal Kota Semarang dan 100 ton dari Kabupaten Kendal. Sementara timbunan sampah lama akan diproses menjadi bahan bakar solar.
“Jadi semuanya masuk di Jatibarang, tetapi bahan bakunya berbeda. Sampah lama diolah menjadi solar agar timbunan habis, sedangkan sampah baru langsung diolah menjadi listrik,” jelasnya.
Ia menambahkan, hasil audiensi sebelumnya menunjukkan pengolahan satu juta ton sampah dapat menghasilkan sekitar 50 ribu liter bahan bakar solar. Untuk mendukung pembangunan fasilitas tersebut, Pemerintah Kota Semarang akan menyiapkan lahan seluas 4 hingga 5 hektare beserta akses jalannya.
Sumber: Humas Pemprov Jateng
Editor: Rosyid
































