JEPARA, Lingkarjateng.id – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Jepara menggalakkan penerapan Trigatra Bangun Bahasa di kalangan generasi muda.
Kepala Disbudpar Jepara, Ali Hidayat, menjelaskan Trigatra Bangun Bahasa merupakan konsep pelestarian Bahasa dengan menekankan tiga aspek utama, yakni mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai Bahasa asing secara seimbang.
Ali menyampaikan bahwa generasi muda perlu dibekali wawasan kebahasaan yang berkelanjutan agar tidak hanya berakar pada budaya lokal, tetapi mampu bersaing di level nasional dan global.
“Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu bangsa yang harus digunakan dengan baik dan benar. Namun, bahasa daerah tidak boleh ditinggalkan karena di situlah identitas dan nilai-nilai luhur kita berada,” ujarnya, saat ditemui Senin, 20 Oktober 2025.
Perkembangan teknologi serta media sosial, menurutnya menjadi tantangan besar perkembangan pola berbahasa generasi masa kini.
Dia berpendapat bahwa pemakaian bahasa ibu semakin berkurang dalam percakapan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
“Saat ini, pergeseran budaya terjadi sangat cepat. Teknologi membuat anak-anak kita banyak menyerap budaya luar dan seringkali meninggalkan bahasa sendiri,” ucapnya.
Oleh karena itu penerapan Trigatra Bangun Bahasa menjadi upaya strategis untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan pelestarian budaya lokal.
Penguasaan bahasa asing, kata Ali, penting untuk membuka akses ilmu pengetahuan dan peluang global. Namun, penguasaan bahasa asing jangan sampai membuat masyarakat melupakan akar budaya.
Ia pun menekankan pentingnya bahasa ibu, terutama bahasa Jawa, sebagai sarana pembentukan karakter. Ia menyebut bahasa Jawa memiliki unggah-ungguh, etika, dan tingkat kesantunan yang tinggi sehingga relevan dengan pendidikan moral generasi muda.
“Bahasa Jawa itu halus dan penuh tata krama. Kalau kita ajarkan sejak dini, anak-anak akan tumbuh dengan karakter yang lebih sopan, hormat, dan tahu unggah-ungguh,” tuturnya.
Pihaknya optimistis pelestarian bahasa daerah masih bisa diperkuat melalui keterlibatan sekolah, komunitas budaya, serta peran keluarga.
“Saya percaya bahasa ibu bisa tetap hidup jika dipraktikkan, bukan hanya dikenang. Pemerintah daerah siap mendukung melalui program dan kegiatan kebudayaan,” ungkapnya.
Dia berharap masyarakat tidak memandang pelestarian bahasa daerah sebagai hal yang kuno, melainkan bagian dari pembangunan karakter dan penguatan jati diri anak muda Jepara.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen untuk bergerak bersama menghidupkan kembali kebiasaan berbahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa
































