SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) berencana membuat aplikasi khusus untuk memantau distribusi komoditas telur guna mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sistem ini dirancang untuk memastikan rantai pasok dari peternak hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat terlacak secara transparan dan efisien.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, sebelumnya meminta SPPG di daerahnya untuk memprioritaskan pembelian telur dari peternak lokal. Ia menekankan bahwa keberadaan ribuan dapur MBG seharusnya menjadi penggerak ekonomi daerah, terutama bagi peternak ayam, petani, nelayan, koperasi, hingga pelaku UMKM.
Namun di lapangan, sejumlah peternak mengeluhkan masih adanya pembelian telur yang justru berasal dari pemasok luar Jawa Tengah.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan pihaknya berencana untuk membuat inovasi berupa aplikasi pemantauan distribusi komoditas telur dari hulu hingga hilir.
“Nanti kami akan mengajak diskusi dari mungkin Bank Indonesia, dari kawan-kawan yang berkaitan dengan itu. Bagaimana laporan daripada peternak maupun petani untuk komunitas-komunitas tertentu untuk melaporkan update posisi hari ini keluar dari lahan atau keluar dari kandangnya itu berapa, yang ngambil siapa, ke mana akan dibawa, itu penting,” ujarnya.
Melalui sistem tersebut, pemerintah daerah nantinya dapat mengetahui arus distribusi telur secara real time, termasuk kemungkinan pergeseran pasokan antarwilayah, baik ke provinsi lain maupun dari luar Jawa Tengah.
“Akhirnya kita bisa mengetahui bahwa oh sebenarnya punya kita itu lari ke mana saja atau jangan-jangan kita justru malah yang mensuplai ke Jawa Timur atau ke Jawa Barat atau jangan-jangan kita itu kurang sehingga justru masuk dari luar. Nah, ini dengan demikian bisa terpantau,” katanya.
“Ini kita akan mencoba seperti itu untuk mengambil inisiatif melakukan sebuah inovasi dengan bekerja sama dengan pihak-pihak lain seperti Bank Indonesia yang konsen terhadap ini,” sambungnya.
Selain pemantauan distribusi telur, Distanak Jateng juga mencatat capaian produksi daging ayam ras tahun 2026 yang mencapai 1.034.552 ton, sementara kebutuhan masyarakat berada di angka 540.421 ton. Kondisi tersebut menunjukkan adanya surplus sekitar 494.140 ton per tahun.
Meski demikian, pemerintah daerah masih menghitung kebutuhan bahan pangan untuk mendukung program MBG, termasuk skema penyerapan langsung dari peternak.
“(Itu sudah termasuk untuk MBG?) Jadi ini kita belum belum final ya mendapatkan apakah kebutuhan di MBG itu akan dilakukan misalnya pengambilan dari peternak ayam itu setiap hari berapa jumlahnya dan sebagainya ya,” katanya.
“Tapi kalau dari kondisi seperti ini produksi yang saya sebutkan tadi Rp1.034.552 ton menjadi kurang kebutuhan, maka kita punya neraca itu berarti surplus kita 494.140 ton daging,” sambungnya.
Untuk komoditas telur, data Distanak Jateng mencatat produksi mencapai 938.219 ton, sementara kebutuhan berada di kisaran 931 ribu ton. Artinya, terdapat surplus tipis sekitar 7 ribu ton pada 2026.
“Nah, kalau telur kan produksinya hampir 938.219 ton. Kemudian kebutuhan 931 ribu ton kebutuhan juga cukup tinggi hampir sama dengan produksi.Sehingga surplus kita hanya sedikit kira-kira ya 7.116 16 ton dalam 1 tahun 2026 ini,”katanya.
Tavares juga menyoroti pengaruh biaya logistik terhadap harga pangan, termasuk dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada ongkos distribusi.
“Kalau logistik pasti berkaitan. Naiknya harga BBM tentu masuk dalam perhitungan biaya distribusi, apalagi kalau jaraknya semakin jauh atau antarprovinsi,” katanya.
Ia menambahkan, perbedaan harga di tiap daerah juga dipengaruhi tingkat produksi. Daerah dengan produksi tinggi seperti Jawa Timur cenderung memiliki harga lebih rendah karena pasokan melimpah.
“Kalau produksi banyak, biasanya harga akan turun sedikit. Jawa Timur produksinya luar biasa besar sehingga harga di sana relatif lebih rendah dibanding beberapa daerah lain,” pungkasnya.
Jurnalis: Rizky Syahrul Al-Fath
Editor: Rosyid
































