Semarang (lingkarjateng.id) – Invasi ikan sapu-sapu tidak hanya terjadi di Jakarta, namun juga di beberapa aliran sungai Kota Semarang, Jawa Tengah. Ikan dengan nama latin Hypostomus Plecostomus, kini menjadi spesien invasif global.
Tidak hanya merusak ekosistem, keberadaan ikan sapu-sapu dengan jumlah yang begitu besar dampaknya juga menjadi ancaman ekologi. Seperti yang terjadi di negara asing seperti Malaysia dan Filipina juga mengalami kejadian serupa.
Bagi warga Kota Semarang, juga mengaku resah mendapati populasi ikan sapu-sapu yang kian banyak di sejumlah aliran sungai. Sebab, ikan tersebut dapat merusak ekosistem sungai dan mengancam keberadaan ikan-ikan lokal.
Salah seorang warga yang hobi memancing, Rachman meluangkan waktunya dengan menyusuri aliran sungai di sekitar Jalan Perak hingga Jalan Ronggowarsito. Dari hasil penelusurannya, kondisi sungai yang dia lihat dinilai mengkhawatirkan.
Dia menemukan ikan sapu-sapu hidup dan berkembang biak dalam jumlah besar, menyerupai fenomena yang terjadi di Jakarta. “Kalau lihat kondisi di sini, tidak beda jauh dengan Jakarta. Ikan sapu-sapu berkembang biak dan ini ancaman buat ekosistem,” ujarnya, Senin (20/4).
Ia menyebut gerakan pembasmian ikan sapu-sapu yang viral di Jakarta menjadi contoh positif bagi daerah lain. Meski bukan spesies asli Indonesia, ikan itu dinilai merusak keseimbangan ekosistem sebab memangsa telur ikan endemik dan menghambat perkembangbiakannya.
“Percuma semisal kita tebar ikan lokal kalau sapu-sapunya masih ada. Telur-telur ikan habis dimakan, jadi tidak bisa berkembang,” keluh Rachman.
Menurut Rachman, ikan sapu-sapu telah menguasai berbagai aliran sungai di Semarang, di antaranya kawasan Ronggowarsito, Merak, hingga Kaligawe.
“Aktifnya itu pada malam hari, misal di senter pasti kelihatan banyak. Ukurannya (sapu-sapu) juga besar-besar, ada yang hampir 30 sampai 40 sentimeter,” bebernya.
Terpisah, Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang, Soenarto, mengatakan pihaknya telah melakukan pengecekan langsung di lapangan untuk memastikan kondisi populasi ikan tersebut.
“Fenomena ikan sapu-sapu ini memang ramai diberitakan di Jakarta. Kami mencoba memahami potensi dampak negatifnya, termasuk kemungkinan kerusakan ekosistem jika populasinya tidak terkendali,” ujarnya.
Menurutnya, tim Dinas Perikanan bersama penyuluh dan tenaga teknis telah melakukan pemantauan di sejumlah lokasi, seperti Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat.
Hasilnya, populasi ikan sapu-sapu di wilayah itu tergolong masih rendah dan belum mengganggu secara signifikan. “Dari pengamatan dan juga informasi dari para pemancing, memang ikan ini ada, tapi belum bisa dikatakan sebagai wabah seperti yang di Jakarta,” jelasnya.
Meski demikian, pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan. Beberapa titik lain seperti Polder Tawang juga mulai menunjukkan kemunculan ikan sapu-sapu dengan frekuensi yang cukup sering di permukaan air.
“Ini menjadi perhatian kami. Walaupun belum masuk kategori wabah, kami akan terus melakukan pendalaman dan pemantauan lebih lanjut,” tambahnya.
Soenarto menegaskan, langkah antisipasi akan dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk kemungkinan melibatkan komunitas masyarakat untuk pengendalian populasi.
“Penanganannya tidak bisa sendiri, harus bersama-sama. Di Jakarta dilakukan penangkapan langsung, sementara di Semarang mungkin akan disesuaikan dengan kondisi, misalnya menggunakan jaring,” katanya.***
Jurnalis : Syahril Muadz
Editor : Fian































