KENDAL, Lingkarjateng.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah bersama BPBD Kabupaten Kendal meningkatkan kesiapsiagaan bencana masyarakat dengan membentuk desa tangguh bencana (destana).
Program destana menjadi bagian dari pengurangan risiko bencana berbasis komunitas dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam mengenali ancaman dan menyusun langkah mitigasi di wilayahnya.
Kali ini BPBD Kendal menggandeng Pemerintah Desa Sriwulan, Kecamatan Limbangan untuk membentuk destana.
Kepala Pelaksana BPBD Kendal, Ali Sutariyo, mengatakan melalui pembentukan Destana Sriwulan diharapkan masyarakat memiliki kemampuan dan ketangguhan dalam menghadapi risiko bencana, baik secara individu maupun kolektif.
“Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat berjalan secara terpadu dan terukur sehingga masyarakat lebih siap mengenali serta menghadapi berbagai potensi bencana di wilayahnya,” ujarnya.
Sosialisasi dan pembentukan destana di Desa Sriwulan berlangsung 7 hingga 9 Mei 2026. Dalam pelaksanaannya, masyarakat didorong untuk melakukan penilaian ketangguhan desa, mengenali potensi risiko bencana, menyusun sistem peringatan dini, hingga menentukan jalur dan rencana evakuasi apabila terjadi bencana.
“Program tersebut juga mencakup pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), tim relawan penanggulangan bencana, penyusunan rencana penanggulangan bencana, serta rencana kontingensi desa. Seluruh tahapan dilakukan sebagai bentuk penguatan kapasitas masyarakat dalam penanganan bencana secara mandiri dan berkelanjutan,” terang Ali.
Ali menyebut, dukungan anggaran dari BPBD Provonsi Jawa Tengah maupun pemerintah desa setempat juga penting untuk penguatan kelembagaan agar destana berjalan optimal.
Selain itu, peran camat, kepala desa, serta perangkat daerah terkait juga sangat penting dalam mendukung keberlanjutan program kebencanaan di tingkat desa.
“Dukungan prngalokasian dana desa untuk program kebencanaan juga dinilai dapat meningkatkan Indeks Desa Membangun (IDM) dan Indeks Ketahanan Daerah (IKD),” imbuhnya.

Sementara itu perwakilan BPBD Provinsi Jateng Adi Widagfo memberikan arahan bahwa salah satu indikator dalam pembentukan destana adalah melakukan kajian risiko bencana, inventaris data ancaman bencana yang terjadi.
“Sehingga dapat menjadi dasar menentukan langkah program penanggulangan bencana baik pemerintah desa atau masyarakat,” ujarnya.
Kepala Desa Sriwulan, Sulistyo menyampaikan ancaman bencana tanah longsor dan banjir menjadi prioritas pembahasan dalam pembentukan Destana Sriwulan. Seluruh peserta antusias berdiskusi lembar kerja indikator dan pemerintah desa berharap masyarakat dapat berperan aktif baik pikiran dan tenaga setelah kegiatan selesai.
“Alhamdulillah warga senang sekali karena ini ya untuk desa kita sendiri dan penting. Jadi sewaktu-waktu terjadi bencana kita sudah tahu cara penanganan dininya bagaimana,” katanya. (Adv)
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Ulfa





























