KUDUS, Lingkarjateng.id – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus akan menata ulang konsep wisata di Museum Kretek. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisata ke museum tersebut.
Sekertaris Disbudpar Kabupaten Kudus, Agus Susanto mengatakan, penataan ulang konsep dilakukan untuk menguatkan karakter Museum Kretek itu sendiri. Apalagi, Kabupaten Kudus sudah terkenal dengan sebutan Kota Kretek.
Agus menyoroti adanya wahana waterboom di dalam Museum Kretek yang terkesan salah desain. Menurutnya, tak semestinya tempat wisata edukasi dan kebudayaan itu terdapat wahana waterboom.
“Museum Kretek ada waterboom-nya itu salah desain. Kalau kita mau menaikkan kunjungan wisatawan harus merubah konsep dengan memperbaiki taman dan konten yang bagus,” katanya.
Oleh karena itu, pihaknya berencana memisahkan wahana waterboom supaya menjadi destinasi wisata baru sendiri. Sementara, konsep Museum Kretek akan lebih diperkuat.
“Kalau itu tidak ada waterboom, kunjungan wisata di Museum Kretek bisa mencapai 100 ribu pengunjung dalam setahun. Selama ini tingkat kunjungan di sana hanya 25 ribu pengunjung,” ungkapnya.
Penataan desain akan dilakukan dengan memperbaiki konsep desain konten yang menunjang tempat wisata edukasi tersebut. Tak hanya itu pihaknya juga bakal membuat destinasi sambungan terusan, seperti dihadirkannya destinasi Gusjigang, stasiun kereta api, dan kewajiban anak sekolah untuk membuat laporan terkait Museum Kretek.
“Sehingga dengan konsep yang kami rencanakan ini berjalan, kunjungan wisatawan di Kudus terutama di Museum Kretek bisa tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, wahana waterboom di Museum kretek itu juga disebut menjadi salah satu faktor tidak tercapainya Pendapatan Asli Daerah (PAD) Disbudpar Kudus khususnya sektor pengelolaan kekayaan daerah. Dari target PAD 2025 sebesar Rp3,8 miliar, hanya tercapai Rp3,5 miliar.
Pihaknya menyebut sedang dalam proses untuk mengusulkan ke pihak Badan Pengelola Pendapatan, Keuangan, dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten Kudus supaya pengelolaan waterboom dari Museum Kretek dipisahkan. Menurutnya, jika pengelolaan waterboom dipihakketigakan nantinya menjadi sangat relevan dan bisa meningkatkan PAD.
“Kalau konsep pemisahan waterboom dari Museum Kretek ini sudah jalan, saya yakin PAD yang kami kelola bisa melampaui target, yakni bisa mencapai Rp5 miliar dalam satu tahun,” terangnya.
Jurnalis: Nisa Hafizhotus S
Editor: Sekar S






























