Jakarta (lingkarjateng.id) – Pelintasan sebidang kembali menjadi salah satu persoalan, paska insiden kecelakaan kereta antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, pada Senin (27/4/2026) malam.
Salah satu yang menyoroti persoalan pelintasan sebidang tersebut yakni Ketua Komisi V DPR RI Lasarus yang mendorong penutupannya. Dalam keterangannya, ia juga menyampaikan jumlah pelintasan sebidang yang didapatkannya dari PT Kereta Api Indonesia (Persero).
912 Pelintasan Sebidang Tidak Dijaga pada 2025
Berdasarkan data KAI yang diperolehnya, tercatat sebanyak 3.896 pelintasan sebidang pada 2025. Dari angka tersebut, 2.803 pelintasan terdaftar dan 1.093 perlintasan tidak terdaftar. Selain itu, sebanyak 1.832 perlintasan telah dijaga, sementara 971 perlintasan belum dijaga.
Sedangkan pada awal 2025, jumlah pelintasan sebidang menurun menjadi 3.703 titik, yang mencakup 2.776 perlintasan terdaftar dan 927 perlintasan tidak terdaftar. Lalu pada Desember 2025, terdata sebanyak 1.864 pelintasan sebidang telah dijaga, sedangkan 912 titik tidak ada penjaganya.
Desak Penutupan Pelintasan Sebidang
Kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Bekasi merupakan rentetan dari mogoknya mobil di pelintasan sebidang.
Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional sistem perkeretaapian di Indonesia, khususnya pelintasan sebidang.
“Seperti kita ketahui, harusnya kereta api itu jalur lintasannya clear and clean, dan tidak boleh ada obstacle atau hambatan apapun yang memungkinkan terjadi di jalur kereta api,” tegasnya.
Apalagi berdasarkan laporan dari banyak wilayah, terdapat pelintasan sebidang ilegal dan tidak dijaga oleh petugas. “Ini potensi bisa terjadi kecelakaan kalau tidak ditangani dengan cepat. Kami berharap dari Komisi V DPR RI, ini kalau boleh jangan sampai terulang lagi kejadian itu, cukuplah sudah kecelakaan hari ini dan yang telah lalu,” ujarnya.
Sebagai pimpinan Komisi V DPR, ia juga menyampaikan turut duka cita yang mendalam atas kecelakaan kereta yang terjadi di Bekasi Timur. “Semoga keluarga korban diberi kekuatan dan ketabahan. Dan kepada petugas di lapangan untuk memastikan dan memprioritaskan penanganan korban agar mendapatkan penanganan dengan baik dan maksimal,” kata dia.
Sebagai informasi, peristiwa ini diduga bermula dari adanya taksi berwarna hijau yang tertabrak KRL di pelintasan kereta. Setelah rangkaian tersebut berhasil dievakuasi, insiden lanjutan terjadi.
Kecelakaan kedua terjadi saat KRL tujuan Jakarta–Cikarang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Pada saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek jurusan Surabaya menabrak rangkaian KRL tersebut pada Senin (27/4/2026) malam.
Kecelakaan tersebut mengakibatkan 14 orang meninggal dunia berdasarkan data per Selasa (28/4/2026) pukul 08.45 WIB. Korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Sementara itu, 84 korban luka telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan.***
Editor : Tim Redaksi

































