DEMAK, Lingkarjateng.id – Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan siap bertanggung jawab penuh atas biaya pengobatan ratusan santri dan siswa di Kabupaten Demak yang diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal tersebut disampaikan Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kabupaten Demak, Muzani Ali Shodikin, saat dihadirkan dalam konferensi pers di Polres Demak, Selasa, 21 April 2026 kemarin.
“BGN menyampaikan akan bertanggung jawab penuh terhadap seluruh biaya pengobatan korban. Kejadian di Pilangwetan ini menjadi perhatian serius kami untuk meningkatkan kualitas pelayanan MBG di Demak ke depan, dan kami berharap ini menjadi kejadian terakhir,” ujarnya.
Sebagai langkah penanganan, operasional dapur penyedia MBG di lokasi kejadian juga telah dihentikan sementara sejak Senin, 20 April 2026. Selain itu, BGN juga merencanakan agenda trauma healing bagi para korban sebagai bagian dari pemulihan pascakejadian.
“BGN juga sudah mengeluarkan surat dari Deputi pemantau dan pengawasan BGN sudah memberhentikan operasionalnya sejak Senin kemarin. Selain itu, sebagai langkah ke depan ada agenda trauma healing kepada para korban,” katanya.
Muzani menjelaskan, proses pengolahan makanan sebenarnya telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP). Bahan baku diterima pada Jumat, 17 April 2026, sekitar pukul 15.00 WIB dan melalui proses sortir sebelum diolah.
Proses memasak dilakukan pada Sabtu dini hari, mulai pukul 01.00 hingga 05.00 WIB, dengan menu nasi goreng, telur ceplok, susu, acar, dan buah jeruk. Setelah itu, makanan didistribusikan kepada penerima manfaat mulai pukul 06.00 WIB.
“Pengolahan makanan dilakukan dengan pengawasan ahli gizi hingga tahap pengemasan. Distribusi dilakukan bertahap, dan wilayah Pilangwetan menjadi lokasi terakhir yang menerima, termasuk di Yayasan Yasua sekitar pukul 09.00 WIB,” jelasnya.
Ia menambahkan, pada hari Sabtu tidak ditemukan laporan keluhan. Namun, laporan mulai diterima pada Minggu pagi, sehingga pihaknya segera berkoordinasi dengan Puskesmas Kebonagung untuk melakukan evakuasi dan penanganan korban.
“Fokus utama kami saat itu adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis secepatnya,” ungkapnya.
Terkait dugaan penyebab keracunan, Muzani menyebut pihaknya belum dapat memastikan apakah menu nasi goreng menjadi faktor utama.
“Kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya, karena sampel makanan masih dalam proses uji laboratorium. Berdasarkan keterangan guru, uji organoleptik yang dilakukan sebelum konsumsi menunjukkan tidak ada masalah dari segi rasa, bau, maupun tekstur,” katanya.
Sementara itu, Plh Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Kuntoro, mengatakan pihak kepolisian telah mengambil langkah awal dalam penanganan kasus tersebut.
“Kami telah memasang garis polisi untuk menjaga status quo di lokasi, guna memudahkan proses penyelidikan yang sedang berlangsung,” ujarnya.
Polisi juga telah mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak, mulai dari penerima manfaat, tenaga ahli gizi, hingga pihak sekolah.
“Keterangan sementara dari ahli gizi menyebutkan proses pengolahan telah sesuai SOP. Namun demikian, kami belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kejadian ini,” tambahnya.
Hingga kini, pihak kepolisian masih menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah guna memastikan sumber penyebab dugaan keracunan tersebut.
Jurnalis: M. Burhanuddin Aslam
Editor: Rosyid


































