Demak (lingkarjateng.id) – Kasus dugaan keracunan makanan yang dialami ratusan santri dan pelajar di Kabupaten Demak hingga kini masih dalam pendalaman. Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Demak masih melakukan uji laboratorium guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
Kepala Dinkesda Demak, Ali Maimun, menyampaikan bahwa hingga saat ini masih terdapat sekitar 134 siswa atau santri yang menjalani perawatan medis.
Dari jumlah tersebut, 68 orang dirawat inap dan 66 lainnya menjalani rawat jalan dengan pemantauan intensif, termasuk dua balita, ibu dengan anak sebanyak dua, dan satu ibu menyusui.
“Memang ada dugaan keracunan makanan yang dialami para santri dan siswa yang bersekolah di Yasua. Saat ini total 134 masih dalam perawatan, baik rawat inap maupun rawat jalan yang tetap kami pantau,” kata Ali ditemui di kantornya, Senin (20/4).
Dinkesda Lakukan Evaluasi
Selain melakukan penanganan medis, Dinkesda juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Sarana Produksi Pangan Gizi (SPPG), mulai dari tata letak bangunan, sumber daya manusia, hingga standar higiene dan lingkungan atau melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL).
“Pemeriksaan dilakukan pada seluruh alur produksi, mulai dari penerimaan bahan baku, proses pengolahan, pengemasan, hingga pendistribusian itu memang sudah baik,” jelasnya.
Namun demikian, dari hasil pengecekan tersebut juga ditemukan sejumlah hal yang perlu diperbaiki. Di antaranya belum tersedianya instalasi pengolahan air limbah (IPAL), yang masih menggunakan sistem resapan buatan. Selain itu, alat sterilisasi untuk wadah makanan (ompreng) juga dinilai masih kurang memadai.

“Tempat pembuangan limbahnya itu belum ada, karena itu masuk aturan yang lama. Kalau yang baru dari BGN itu mensyaratkan pakai IPAL, tapi di sana sekarang ini baru pakai resapan buatan,” ungkapnya.
“Itu masuk rekomendasi yang harus disesuaikan. Termasuk alat sterilisasi dari ompreng masih kurang, harus disediakan alatnya,” sambungnya.
Bahan Baku MBG
Untuk bahan baku, lanjut kata dia, SPPG tersebut menggunakan sistem harian sehingga tidak melakukan penyimpanan dalam jangka panjang. Ali menambahkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, menu nasi goreng yang disajikan menjadi salah satu faktor risiko.
“Dari informasi BGN, nasi goreng termasuk menu yang sering menjadi penyebab kejadian menonjol. Jadi ada beberapa menu yang sudah diberi peringatan yang menjadi penyebab kejadian menonjol termasuk nasi goreng,” katanya.
Meski demikian, pihaknya belum dapat memastikan sumber pasti keracunan sebelum hasil uji laboratorium keluar. Hasil tersebut diperkirakan dapat diketahui paling cepat dalam waktu tiga hingga empat hari.
Operasional SPPG Stop Sementara
Sebagai langkah pencegahan, operasional SPPG Pilangwetan untuk sementara dihentikan berdasarkan rekomendasi BGN. Selain itu, Dinas Kesehatan Demak juga merekomendasikan perbaikan terhadap SPPG tersebut.
“Rekomendasi kita untuk dilakukan perbaikan, mulai dari sarana prasarana, alat-alat yang dipakai dan kepatuhan terhadap SOP. Pada dasarnya tiga itu rekomendasi dari kami. Kemudian menu-menu yang di note dari BGN yang menyebabkan kejadian menonjol itu jangan dijadikan menu lagi,” tegasnya.
Ali menambahkan, tidak semua penerima manfaat terdampak dalam kejadian ini. Dari total sekitar 1.500 penerima program, hanya sebagian yang mengalami gejala keracunan.
“Dari sisi kesehatan, munculnya penyakit bisa dipengaruhi beberapa faktor seperti daya tahan tubuh, potensi paparan, atau kombinasi keduanya. Yang jelas, tidak semua penerima terdampak,” tambahnya.
Hingga kini, kondisi para pasien dilaporkan terus membaik dan belum ditemukan kasus dengan gejala serius. Dinkesda memastikan penanganan terus dilakukan secara optimal sambil menunggu hasil laboratorium sebagai dasar penentuan langkah lanjutan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, SPPG Yayasan Khidmatul Ummah Madani di Desa Pilangwetan dipasangi garis polisi dan dihentikan sementara. ***
Jurnalis : Burhan Aslam
Editor : Fian































