PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten Pekalongan melalui Dinas Sosial (Dinsos) menargetkan sekitar 1.050 anak berkebutuhan khusus (ABK) di seluruh wilayah untuk mendapatkan layanan terapi dan pendampingan melalui program Mobile Therapy yang dilakukan secara bertahap.
Program jemput bola ini menghadirkan berbagai layanan, mulai dari fisioterapi, terapi wicara, terapi okupasi, konseling psikologi hingga psikotes pengukuran IQ anak. Pelaksanaan kegiatan dilakukan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan melalui koordinator wilayah (korwil) pendidikan di masing-masing kecamatan.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Kabupaten Pekalongan, Moureta Vitria Loreent, menyebutkan bahwa data sementara ABK yang menjadi sasaran program mencapai sekitar 1.050 anak.
“Data yang sudah masuk dari korwil se-Kabupaten Pekalongan itu sekitar 1.050 anak berkebutuhan khusus. Itu sasaran kita untuk mobile therapy ke wilayah,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat, 15 Mei 2026.
Menurut Moureta, jumlah tersebut masih berpotensi bertambah. Dinsos akan melakukan pendataan lanjutan bersama pemerintah desa dan puskesmas guna menjangkau ABK yang belum terdata, terutama yang berada di luar sekolah inklusi.
“Data itu nanti ditambah dengan data dari desa dan puskesmas jika ada anak berkebutuhan khusus yang di luar sekolah inklusi,” katanya.
Sebelumnya, program Mobile Therapy telah dilaksanakan di Kecamatan Talun dengan melibatkan 55 ABK, termasuk anak dengan cerebral palsy dan down syndrome. Mereka mendapatkan layanan terapi langsung dari tenaga profesional.
Selain memberikan terapi kepada anak, kegiatan ini juga menyasar orang tua dan guru pendamping. Edukasi diberikan terkait pola pengasuhan, tumbuh kembang anak, hingga pendampingan psikologis agar penanganan ABK dapat dilakukan secara tepat dan berkelanjutan.
Moureta menjelaskan, pelaksanaan Mobile Therapy akan dilakukan secara bergilir di tiap wilayah, menyesuaikan dengan ketersediaan fasilitas yang memadai.
“Pelayanan kita laksanakan di korwil Dindik atau di kecamatan tergantung dengan fasilitas yang memadai di wilayah tersebut,” jelasnya.
Dinsos juga memastikan program ini tidak berhenti pada layanan terapi saja. Pihaknya mendorong adanya tindak lanjut berupa terapi mandiri di fasilitas kesehatan maupun klinik terapi, serta memberikan edukasi kepada keluarga dan guru pendamping.
“Untuk yang sudah bersekolah di sekolah inklusi kita memberikan edukasi ke keluarga dan guru pendamping,” ucapnya.
Selain layanan terapi, Dinsos turut mengusulkan bantuan alat bantu sesuai kebutuhan anak, seperti kursi roda anak, kursi roda adaptif bagi penyandang cerebral palsy, hingga alat bantu dengar.
Moureta berharap seluruh wilayah Kabupaten Pekalongan dapat dipetakan tahun ini sehingga program Mobile Therapy dapat berjalan lebih rutin dan terjadwal pada tahun mendatang.
“Harapan kita tahun ini bisa menyelesaikan seluruh wilayah untuk bisa kita mapping dan di tahun depan jadwalnya bisa rutin di wilayah masing-masing tergantung dari hasil mapping,” tandasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Sekar





























