Batang (lingkarjateng.id) – Seorang wanita lanjut usia, Gim Suyati (73) akhirnya kembali pulang ke kampung halamannya di Desa Adinuso, Reban, Kabupaten Batang, Kamis (14/5). Dia tak menyangka bisa kembali ke Indonesia setelah 31 tahun hidup terdampar di Malaysia.
Kedatangannya disambut tangis haru nan bahagia oleh keluarga dan masyarakat setempat. Ratusan warga pun dengan suka cita tumpah ruah di sepanjang jalan gang hingga halaman rumah menyambut kedatangannya.
Tangis haru pecah saat ia bertemu kembali dengan sanak famili keluarga yang telah lama terpisah. “Perasaannya senang sekali, gembira sekali. Ini tak tahu macam mana nak cakap (harus ngomong apa),” ucap Gim Suyati yang masih kental dengan logat Melayunya.
Meski telah lama tinggal di Malaysia hingga memengaruhi cara berbahasanya, ia mengaku tetap mengingat kampung halaman dan merasa lebih nyaman tinggal di Indonesia. “Senang pasti di kampung halaman. Suka ketemu keluarga,” ujarnya.
Gim Suyati mengungkapkan selama hidup di Malaysia, dirinya beberapa kali berusaha mengurus kepulangan melalui kedutaan, namun kerap menemui kendala.
Dia kini bisa kumpul dengan keluarganya setelah lebih dari tiga dekade terdampar di Malaysia tanpa memiliki dokumen resmi. Sejak tahun 1995 silam, diketahui, Gim Suyati meninggalkan kampung halamannya tujuan bekerja di Negeri Jiran melalui sebuah agen.
Namun sungguh malang nasibnya. Ia justru diduga menjadi korban penipuan oleh salah satu agen tenaga kerja yang tidak resmi, sehingga hidup di negeri orang tanpa dokumen yang sah.
Di tahun 1997, Gim Suyati pernah berkomunikasi dengan keluarganya dan mengutarakan niatnya ingin pulang ke Indonesia. Sayangnya waktu itu komunikasi sempat terputus. Hingga pada akhirnya keberadaan Gim Suyati kembali dapat diketahui pada tahun 2026 ini.
Tidaklah mudah untuk proses pemulangan bagi Gim Suyati ke Indonesia. Sebab, ketiadaan dokumen resmi menjadi kendala utama dalam pengurusan administrasi. Terlebih, saat ia meninggalkan Indonesia, administrasi kependudukan seperti e-KTP belum diberlakukan.

Sementara itu, Anto (52) anak nomor dua Gim Suyati yang berhasil membawa sang ibunya kembali ke tanah air mengaku keluarganya sempat hampir kehilangan harapan karena terlalu lama tidak mendapat kabar.
“Dalam hati kami tetap yakin ibu masih hidup. Namun, setelah lama sekali tanpa kabar, kami hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Allah,” ujar Anto.
Rasa kehilangan membuat Anto memutuskan merantau ke Malaysia pada 2002 sebagai buruh jahit di Batu Pahat, Johor. Selain bekerja, ia juga berusaha mencari ibunya. Namun, pencarian itu tidak mudah. Anto tidak memiliki alamat jelas tempat tinggal ibunya di Kuala Lumpur.
Di tengah keterbatasan teknologi saat itu, ia hanya bisa mencari dengan cara sederhana. Saat libur kerja, Anto sering mendatangi Terminal Puduraya Kuala Lumpur dan duduk berjam-jam berharap bisa melihat ibunya lewat.
Pihak keluarga baru mengetahui yang menjadi penyebab Gim Suyati tidak pernah bisa pulang ke Indonesia. Dia ternyata berangkat ke Malaysia melalui jalur ilegal dan diduga menjadi korban penipuan agen tenaga kerja.
Akibatnya, Gim Suyati hidup tanpa identitas kewarganegaraan yang jelas selama puluhan tahun. Meski beberapa kali meminta bantuan ke KBRI, proses kepulangannya selalu gagal karena tidak memiliki dokumen resmi. Anto pun kembali pulang ke Indonesia.
Gim Suyati Bertemu Warga Malaysia
Perjalanan panjang keluarga mulai menemukan titik terang sekitar 10 bulan lalu. Di Malaysia, Gim Suyati bertemu seseorang bernama Cik Kamarudin Bin Harun (70), warga Kuala Lumpur yang usianya dibawahnya selisih 3 tahun.
Gim Suyati sudah dianggap sebagai kakak. Begitu mendengar kisah hidup Gim Suyati yang terpisah dari keluarga selama puluhan tahun, pria tersebut iba dan memutuskan membantu. Tanpa diduga, Cik Kamarudin datang ke Indonesia mencari keluarga Gim Suyati.
Pada 14 April 2026, ia terbang dari Kuala Lumpur ke Semarang hanya dengan membawa alamat sederhana bertuliskan “Desa Adinuso, Batang”. “Beliau bilang yang penting bisa menemukan keluarga ibu saya,” cerita Anto.
Begitu berhasil menemukan keluarga, mereka pun melakukan panggilan video dengan Gim Suyati di Malaysia. Saking lamanya berpisah, Anto mengaku sempat sulit mengenali wajah ibunya sendiri. “Saya sama ibu seperti saling berusaha mengenali,” ucapnya.
Momen tersebut semakin emosional ketika kakak kandung Gim Suyati memastikan perempuan di layar video call adalah adiknya. Tangis keluarga pun pecah setelah penantian selama 31 tahun hingga akhirnya terjawab.
Keesokan harinya, keluarga memutuskan memberangkatkan Anto ke Malaysia untuk menjemput ibunya. Sayangnya, proses pemulangan Gim Suyati tidak mudah sebab tidak memiliki dokumen identitas resmi Indonesia.
Status kewarganegaraan Gim Suyati bahkan sempat dianggap tidak jelas karena ia pergi sebelum era e-KTP. Di tengah kesulitan itu, keluarga akhirnya meminta bantuan anggota DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo yang juga merupakan mantan Bupati Batang.
“Alhamdulillah diterima dan dibantu pak Yoyok. Sehari langsung selesai,” ujar Anto.
Hati Yoyok Riyo Sudibyo Tergerak
Sementara itu, anggota DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo mengaku tergerak membantu karena prihatin melihat kondisi Gim Suyati yang terlunta-lunta di negeri orang tanpa status kewarganegaraan yang jelas.
“Ini karena hati dan rasa kemanusiaan, saya berusaha semampu saya. Dan alhamdulilah, Gim Suyati ibunya mas Anto kini bisa berkumpul lagi dengan keluarganya,” ujarnya.
Yoyok mengaku akan terus membantu para pekerja migran Indonesia yang mengalami masalah selama masih memiliki kesempatan dan dukungan. “Selama saya masih mampu, gunakan saya dan siap untuk membantu,” tandasnya.
Untuk diketahui sebelumnya, kasus serupa juga menimpa warga Batang di Malaysia. Ribut Uripah (56), asal Desa Candirejo, Kecamatan Bawang, Batang, baru bisa pulang ke kampung halamannya pada Maret 2025 lalu setelah sebelumnya hilang tanpa kabar selama 19 tahun.
Tanpa memiliki dokumen resmi, ia ditemukan hidup di sebuah gubuk kumuh pinggiran hutan Malaysia setelah video mengenai kondisinya viral di media sosial. Atas dukungan berbagai pihak, ia berhasil dipulangkan ke Indonesia, tepatnya pada Jumat, 21 Maret 2025. ***
Editor : Tim Redaksi































