SEMARANG, Lingkarjateng.id – Ambrolnya jembatan swadaya di Tambaksari RW 7, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, dua pekan lalu membuat warga setempat terisolasi.
Untuk menyebrangi Sungai Beringin, warga kini masih mengandalkan rakit dan getek guna menunjang kegiatan sehari-hari.
Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang sendiri tengah mengkaji sejumlah opsi untuk mengatasi putusnya jembatan penghubung antarkampung di Mangkang Wetan tersebut.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengatakan penanganan jembatan tersebut tidak bisa dilakukan secara langsung karena berkaitan dengan status kepemilikan lahan.
Selain itu, pihaknya juga harus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana.
“Ini masih kami kaji berbagai opsinya, karena lahan di lokasi jembatan bukan milik pemerintah. Kalau memang berkenan, tentu bisa diserahkan ke pemerintah,” katanya, Kamis, 29 Januari 2026.
Agustina menjelaskan jembatan swadaya yang roboh tersebut berdiri di atas lahan milik warga. Saat ini, pemilik lahan belum mengizinkan pembangunan kembali jembatan di lokasi tersebut.
Sementara itu, rencana pembangunan jembatan oleh BBWS pada jalur normalisasi sungai juga terkendala sengketa lahan.
Agustina menjelaskan, apabila pemilik lahan tetap tidak memberikan izin, Pemkot Semarang akan mencari alternatif lahan milik pemerintah untuk pembangunan jembatan, meski konsekuensinya lokasi jembatan harus digeser.
“Kami akan komunikasikan dulu dengan pemilik lahan. Kalau tidak memungkinkan, kami cari lahan milik Pemkot dan jembatan akan digeser,” jelasnya.
Meski demikian pihaknya juga harus memastikan status kepemilikan lahan yang akan digunakan sebagai akses alternatif.
“Kalau itu lahan milik Pemkot bisa langsung dibangun. Kalau bukan, tentu ada proses administrasi yang harus dilalui,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Tugu, Eko Agus Padang, mengatakan warga berencana membangun jembatan darurat dalam waktu dekat melalui kerja bakti.
Jembatan sementara tersebut akan dibangun menggunakan bambu dengan dana swadaya masyarakat.
“Informasi dari Pak RW, warga akan kerja bakti membangun jembatan sementara. Bambu sudah disiapkan,” tuturnya.
Ia menambahkan, lokasi jembatan darurat akan dipindahkan ke sisi selatan dari jembatan swadaya yang roboh, menyesuaikan dengan izin pemilik lahan.
“Rencananya di sebelah selatan, karena pemilik lahan di lokasi lama tidak berkenan,” katanya.
Sedangkan Ketua RT 9/ RW 7 Kampung Tambaksari, Mustagfirin, menyebut ada sekitar 250 hingga 300 kepala keluarga yang terdampak langsung.
“Di RW 007 ada sembilan RT. Sebelah barat itu RT 001 sampai 005, sebelah timur RT 006 sampai 009,” katanya.
Ia menuturkan pihak kelurahan dan kecamatan sebenarnya sudah mengetahui kondisi tersebut, namun belum memberikan tindakan signifikan.
“Responnya ya memberi semangat dan bantuan seperti sembako, dan katanya masih menunggu BBWS” ujarnya.
Menurut Mustagfirin, memang ada akses alternatif, tetapi kondisinya tidak ideal karena masih berupa tanah.
“Kalau kemarau bisa ditempuh sekitar 10 menit, tapi kalau hujan sulit dilewati,” tuturnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid





























