REMBANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten Rembang mengalokasikan 20 persen dana desa untuk program ketahanan pangan lokal yang menunjang penanganan stunting.
Program tersebut misalnya untuk melaksanakan pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis bahan pangan lokal yang digerakkan posyandi dan BUMDes.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinpermades), Slamet Haryanto, menyampaikan bahwa dengan dana tersebut membuka ruang bagi desa untuk mengelola stok pangan mandiri dengan menggandeng lembaga ekonomi desa.
“Desa bisa bekerja sama dengan BUMDes atau Koperasi Merah Putih. Seperti di Bangunrejo sudah ada peternakan ayam petelur, ada juga desa yang mengelola sapi, kambing, bahkan tanaman pangan,” ujarnya, Rabu, 2 Juli 2025.
Program PMT dijalankan dengan kolaborasi lintas sektor, sepeti puskesmas sebagai pelaksana teknis, desa sebagai penyedia bahan baku, dan Posyandu sebagai penggerak utama distribusi dan edukasi gizi masyarakat.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Rembang, Musringah Harno mengapresiasi upaya Dinas Kesehatan dan seluruh stakeholder dalam menyusun strategi ini.
“Ini bukan hanya soal pemenuhan gizi balita, tapi juga tentang pemberdayaan ekonomi lokal dan pemanfaatan potensi pangan desa. Kita ingin puskesmas bisa menjalankan program ini secara serempak, tepat sasaran, dan berkelanjutan,” tuturnya.
Program PMT berbasis bahan pangan lokal ini menjadi bagian dari inovasi daerah bertajuk Telponi, Temokno, Laporno, Openi Stunting, yang bertujuan mempercepat penurunan stunting melalui pendekatan lokal yang aplikatif dan partisipatif.
Jurnalis: Muhammad Faalih
Editor: Ulfa





























