PATI, Lingkarjateng.id – Batik di Kabupaten Pati sangat kaya dan beragam. Tak hanya dari Bakaran, Juwana tapi desa lain juga banyak yang memproduksi batik dengan corak beragam. Hal itulah yang melatarbelakangi berdirinya Klaster Batik Pati.
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh sesuai peribahasa itu Tamzis Al Anas berinisiatif mencetuskan Klaster Batik Pati untuk mewadahi semua batik di Kabupaten Pati. Tamzis sendiri merupakan pengusaha batik Bakaran dari Kecamatan Juwana.
“Klaster Batik Pati didirikan tahun 2019. Kita mengembangkan klaster batik ini merangkul semua perajin batik yang ada di Kabupaten Pati,” jelas Koordinator Klaster Batik Pati, Tamzis saat ditemui di Car Free Day Pati, Minggu, 17 Desember 2023.
Begitu terbentuk kepengurusan, kegiatan pun berkembang. Ada pelatihan dan pemasaran dengan bersinergi bersama Pemerintah Kabupaten Pati. Baik dengan Disperindag untuk pelatihan kualitas produk, Dinas Koperasi untuk manajemennya, dan Dinas Pariwisata sebagai pemasaran. Tak ketinggalan dinas-dinas lain pun ikut berkontribusi untuk semakin mengembangkan Klaster Batik Pati ini.
“Dengan besarnya komunitas Batik Pati ini, maka kami munculkan branding Batik Pati yang telah terdaftar di Kemenkumham. Ke depan, kami juga akan bekerja sama dengan dinas di provinsi dan kementerian untuk gimana promosi produk dan pelatihan yang berbasis dengan sertifikasi sebagai industri berskala nasional,” lanjutnya.
Saat ini anggotanya Klaster Batik Pati sudah ada 40 perajin dari berbagai kecamatan. Pengembangan klaster ini sangat membantu membuka lapangan pekerjaan. Selain itu, antara pengrajin batik bisa saling kerja sama membuat batik sesuai kebutuhan.
“Jadi kami saling membantu menutup permintaan pasar. Jika salah satu pengrajin itu belum bisa memenuhi kapasitas berdasarkan waktu yang diinginkan, perajin lain akan bantu memenuhinya,” jelas Tamziz.
Bagi perajin usia lanjut, masih bisa produktif dengan membatik di rumah masing-masing dan mendapat honor borongan. Dengan demikian, para perajin batik ini bisa tetap mendapat penghasilan meski dari rumah saja.
Pemerintah sendiri sangat mendukung adanya Klaster Batik Pati ini. Meski demikian, Tamziz mengakui masih ada kendala klasik yang dihadapi para perajin Batik Pati, yakni di penyerapan produk.
Semakin banyak perajin yang muncul, maka semakin butuh peresapan produk. Karena itu, ia sangat berharap masyarakat Kabupaten Pati mencintai produk budaya batik ini sendiri untuk pelestarian yang mana dulu pernah diakui oleh bangsa lain.
“Kita sebagai bangsa sendiri harus cinta pada produk lokal. Khususnya batik. Dengan bangga memakai batik untuk berbagai acara. Baik formal maupun non formal,” ajaknya. (Lingkar Network | Nailin RA – Lingkarjateng.id)






























