JEPARA, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mulai memetakan Kecamatan Pakis Aji sebagai kawasan pengembangan wisata dan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Rencana tersebut disampaikan Bupati Jepara, Witiarso Utomo, dalam program Bupati Ngantor di Desa yang digelar di Desa Slagi, Kecamatan Pakis Aji, Selasa, 12 Mei 2026.
Dalam kesempatan itu, Bupati Jepara yang akrab disapa Wiwit bersama jajaran Forkopimda meresmikan rumah produksi gula aren milik Kelompok Wanita Tani (KWT) Sekar Melati di Desa Tanjung.
Sebelum agenda utama dimulai, Wiwit turut menanam pohon aren dan mencicipi nira hasil sadapan warga. Komoditas aren dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung perekonomian masyarakat desa.
Wiwit mengatakan Kecamatan Pakis Aji memiliki sejumlah kawasan strategis yang akan dikembangkan secara bertahap menjadi sentra wisata dan ekonomi baru di Kabupaten Jepara.
“Salah satunya Pandan Arum di Desa Suwawal Timur yang nantinya akan dijadikan ikon. Ke depan kawasan ini akan berkembang menjadi sentra pariwisata dan sentra perekonomian,” katanya.
Ia menambahkan, berbagai program pembangunan juga akan diarahkan ke wilayah tersebut, mulai dari Sekolah Rakyat, SPPG, Sirkuit Rakashima hingga rencana pembangunan gudang Bulog.
Selain itu, Desa Tanjung diproyeksikan menjadi sentra produksi gula aren karena memiliki ratusan pohon aren produktif.
“Potensi aren di Desa Tanjung luar biasa. Satu pohon bisa menghasilkan sekitar 10 liter nira per hari. Saat ini ada 329 pohon produktif dan kita bantu dengan peralatan penunjang agar hasil olahannya lebih maksimal,” ujar Wiwit.
Menurutnya, pengembangan komoditas gula aren berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menggerakkan ekonomi desa.
“Ini potensi besar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Desa Tanjung punya sumber daya yang bisa dikembangkan secara serius,” imbuhnya.
Sementara itu, PIC Kecamatan Pakis Aji, Arwin Noor Isdiyanto, menjelaskan produksi gula aren saat ini masih belum optimal akibat keterbatasan sarana dan peralatan produksi.
“Dari total potensi yang ada, saat ini baru sekitar 560 liter nira yang bisa diolah setiap hari,” jelasnya.
Padahal, dari 329 pohon aren produktif yang ada, total produksi nira diperkirakan mencapai 3.290 liter per hari. Namun sebagian besar hasil sadapan belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan alat produksi.
“Kalau seluruhnya bisa diolah, produksinya bisa mencapai sekitar 329 kilogram gula aren per hari. Dengan harga pasar sekitar Rp40 ribu per kilogram, omzetnya berpotensi menembus Rp13 juta per hari,” ungkapnya.
Arwin menilai potensi ekonomi tersebut dapat diwujudkan apabila dukungan sarana panen dan produksi terpenuhi.
“Pak Bupati akan membantu sarpras panen maupun produksi agar potensi ini benar-benar bisa dimaksimalkan,” pungkasnya.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Rosyid
































