Salatiga (lingkarjateng.id) – Sistem pola pembelajaran hafalan, tidak dilakukan bagi siswa-siswi kelas 4, 5, dan 7 di Kota Salatiga. Mereka justru mengambil langkah berbeda. Mereka lebih memilih terjun langsung ke lapangan untuk menghasilkan solusi nyata.
Inovasi dengan meninggalkan cara konvensional itu dipaparkan dalam audiensi bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Salatiga, Henni Mulyani, di Taman Wisata Sejarah Salatiga (TWSS), Kamis, 30 April 2026.
Pada kesempatan itu, para siswa mempresentasikan hasil pembelajaran berbasis riset yang mengangkat dua isu utama, yakni budaya lokal dan kuliner khas Salatiga.
Berbeda dengan pembelajaran di kelas pada umumnya, para siswa terlibat langsung dalam proses pengumpulan data. Mereka melakukan observasi, wawancara, hingga analisis sebelum merumuskan solusi.
Tim pertama menyoroti budaya lokal seperti drumblek dan cimpleng yang dinilai mulai kurang dikenal masyarakat.
Dari temuan tersebut, mereka menawarkan solusi kreatif berupa pengembangan game berbasis budaya lokal serta integrasi pembelajaran budaya dalam kurikulum secara lebih kontekstual.

Lalu, tim kedua mengangkat terkait potensi kuliner khas Salatiga yang dinilai belum memiliki promosi kuat. Dari hasil riset lapangan, mereka mengusulkan program food tour edukatif, workshop interaktif dengan pelaku kuliner, hingga konsep wisata berbasis pengalaman.
Dari kecerdasan para siswa tersebut, muncul pesan sederhana namun kuat. Yakni pendidikan bukan hanya soal memahami teori, namun juga tentang bagaimana menciptakan solusi bagi kehidupan.
Kepala Disbudpar Salatiga, Henni Mulyani, mengapresiasi langkah berani para siswa yang dinilai mampu menghadirkan cara belajar yang lebih relevan. “Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu melihat persoalan dan menawarkan solusi untuk kotanya,” ungkapnya.
Menurutnya, sejumlah ide yang disampaikan bahkan sejalan dengan program pemerintah daerah, terutama dalam hal promosi budaya dan penguatan sektor pariwisata.
“Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran berbasis pengalaman mampu mendorong siswa berpikir lebih kritis dan solutif,” katanya.
Di sisi lain, hal ini juga menjadi refleksi terhadap sistem pendidikan yang masih cenderung berorientasi pada hasil akademik semata.
Melalui pendekatan ini, siswa Salatiga menunjukkan bahwa belajar tidak harus selalu di dalam kelas.
“Justru dari lapangan, mereka mampu menghadirkan gagasan yang lebih kontekstual dan berdampak nyata,” ujarnya. ***
Jurnalis : Angga Rosa
Editor : Fian

































