SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pada 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan 139 SMA dan SMK swasta melalui Program Sekolah Kemitraan yang menyediakan kuota bagi 5.004 siswa.
Program tersebut dihadirkan untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tetap dapat melanjutkan sekolah dan mengejar cita-cita mereka.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menyatakan bahwa Program Sekolah Kemitraan merupakan salah satu upaya strategis pemerintah daerah dalam mengurangi kemiskinan melalui peningkatan akses pendidikan.
“Minimal setiap tahun 5.000 anak miskin ekstrem harus bisa dientaskan melalui pendidikan,” tegasnya.
Manfaat program tersebut dirasakan langsung oleh sejumlah siswa yang sebelumnya menghadapi ancaman putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi.
Salah satunya adalah Ayu Prameswari, siswi SMA Mardisiswa Banyumanik, yang sempat khawatir tidak dapat melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP karena kondisi ekonomi keluarganya.
“Kalau melihat kondisi ekonomi keluarga, saya sempat berpikir mungkin tidak bisa sekolah lagi. Biaya masuk sekolah besar sekali,” ungkap Ayu.
Kesempatan untuk tetap bersekolah akhirnya terbuka setelah Ayu diterima sebagai peserta Program Sekolah Kemitraan. Melalui program tersebut, ia memperoleh berbagai fasilitas pendidikan tanpa biaya, termasuk pembebasan SPP, uang gedung, dan dukungan kebutuhan belajar lainnya.
Pengalaman serupa dialami Keyla Sabrina. Ia mengaku kemungkinan besar harus menghentikan pendidikan jika tidak mendapatkan kesempatan melalui program tersebut. Kini, Keyla dapat terus belajar dan memiliki harapan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Kalau tidak ada Sekolah Kemitraan, mungkin saya putus sekolah dulu. Sekarang saya bisa tetap belajar dan punya harapan melanjutkan kuliah,” ujarnya.
Cerita keberhasilan program ini juga terlihat di SMA Laboratorium Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Vanesha Angelina, yang berasal dari keluarga buruh, mengaku orang tuanya sangat terbantu karena tidak lagi harus menanggung biaya pendidikan yang cukup besar.
Sementara itu, Maulida Dewi Novi Yanti menyampaikan rasa syukurnya karena dapat mengenyam pendidikan secara gratis melalui Program Sekolah Kemitraan.
“Terima kasih Pak Gubernur, akhirnya saya bisa sekolah gratis dan melanjutkan pendidikan,” katanya.
Kepala SMA Mardisiswa Banyumanik, Marwulandari Sayekti, menilai Program Sekolah Kemitraan menjadi solusi konkret bagi siswa dari keluarga kurang mampu yang selama ini menghadapi kendala dalam mengakses pendidikan.
“SPP gratis, uang gedung gratis, buku juga bisa dibantu melalui program. Banyak anak yang akhirnya tetap bisa sekolah,” jelasnya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala SMA Laboratorium UPGRIS, Nor Khoiriyah. Menurutnya, sejumlah siswa yang saat ini bersekolah di lembaganya sebelumnya berada dalam kondisi rentan putus sekolah akibat masalah ekonomi.
“Program ini benar-benar menyelamatkan masa depan anak-anak yang hampir berhenti sekolah karena masalah ekonomi,” ujarnya.





























