SALATIGA, Lingkarjateng.id – Perempuan masa kini menghadapi tantangan besar dalam menjalankan peran ganda, baik di ranah domestik maupun publik. Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah (Jateng) Ida Nurul Farida menyoroti kondisi tersebut sekaligus menawarkan solusi untuk menjaga harmoni antara keluarga dan karier.
Dalam pemaparannya pada kegiatan Pendidikan Politik bagi perempuan yang digelar di DPRD Kota Salatiga, Senin, 27 April 2026, Ida menegaskan bahwa perempuan memiliki banyak peran strategis, mulai dari ibu, istri, pekerja, hingga bagian penting dalam masyarakat.
“Perempuan hari ini tidak hanya berada di rumah, tetapi juga aktif di berbagai sektor. Namun, semua peran itu memiliki satu tujuan, yakni kesejahteraan keluarga dan kemajuan bangsa,” ujarnya kepada para peserta kegiatan bertajuk “Multi Peran, Satu Tujuan: Menjaga Harmoni antara Rumah dan Peran Publik” itu.
Menurut Ida, perkembangan zaman, globalisasi, serta meningkatnya akses pendidikan telah membuka peluang luas bagi perempuan untuk berkiprah di ruang publik. Meski demikian, tanggung jawab di dalam rumah tangga tetap melekat dan tidak bisa diabaikan.
“Kondisi ini kerap memunculkan tantangan berupa konflik waktu, tekanan sosial, hingga beban mental yang tidak ringan. Bahkan, masih banyak anggapan bahwa perempuan yang aktif di luar rumah dianggap kurang memperhatikan keluarga, sementara yang fokus di rumah dinilai kurang produktif,” katanya.
Ida mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), partisipasi angkatan kerja perempuan terus meningkat. Namun, sekitar 70 persen perempuan masih mengelola pekerjaan domestik secara mandiri.
“Ini menunjukkan bahwa beban perempuan masih cukup besar. Karena itu, perlu adanya keseimbangan dan dukungan dari berbagai pihak,” jelasnya.
Di ranah domestik, perempuan memiliki peran penting dalam mengelola rumah tangga, mendampingi suami, serta mengasuh dan mendidik anak. Bahkan, perempuan disebut sebagai madrasah pertama dalam pembentukan karakter generasi.
Sementara itu, di ranah publik, keterlibatan perempuan dinilai mampu meningkatkan kualitas keputusan, memperkuat kesejahteraan keluarga, serta mendorong perubahan sosial melalui berbagai kegiatan di masyarakat.
Untuk menjaga harmoni, Ida menekankan pentingnya manajemen waktu, komunikasi yang baik dengan pasangan, serta dukungan lingkungan yang positif.
“Selain itu, perempuan juga perlu menjaga kesehatan fisik dan mental agar dapat menjalankan peran secara optimal,” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa peran laki-laki sangat krusial dalam menciptakan keseimbangan tersebut. Menurutnya, laki-laki harus menjadi mitra yang setara, bukan sekadar penonton dalam kehidupan rumah tangga.
“Kolaborasi antara perempuan dan laki-laki menjadi kunci. Harmoni akan tercapai jika keduanya saling mendukung, bukan saling membebani,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mendorong lingkungan kerja dan masyarakat untuk menciptakan budaya yang lebih ramah terhadap perempuan, termasuk kebijakan yang mendukung keseimbangan antara kehidupan kerja dan keluarga.
Ida juga menegaskan bahwa harmoni bukan soal kesempurnaan, melainkan tentang keseimbangan dalam menjalankan berbagai peran kehidupan. “Perempuan yang berdaya dan bahagia akan melahirkan keluarga yang kuat, masyarakat yang maju, dan bangsa yang terus berkembang,” pungkasnya.

Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa


































