PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Upaya perbaikan tanggul Sungai Sengkarang di wilayah Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, kembali dilakukan secara gotong royong oleh warga pada Jumat, 14 November 2025. Kerja bakti dilakukan menyusul kondisi tanggul darurat yang kian kritis di tiga titik utama yang jebol pada banjir besar Januari 2025 lalu.
Camat Wonokerto, Abdul Qoyyum, menjelaskan bahwa kerusakan tanggul pertama kali terjadi pada 20 Januari 2025 akibat kiriman air dari wilayah atas, terutama Kecamatan Petungkriyono.
Derasnya aliran air menyebabkan tiga titik tanggul jebol, dua titik di Desa Pecakaran dan satu titik di Desa Pesanggrahan, sehingga banjir merendam lima desa sekaligus yaitu Pesanggrahan, Pecakaran, Sijambe, Wonokerto Wetan, dan Api-Api.
“Perbaikan yang ada saat ini masih berupa tanggul darurat yang kami buat Januari lalu menggunakan karung pasir dari Pantai Wonokerto Wetan. Kondisinya sekarang sudah sangat mengkhawatirkan,” ujar Qoyyum.
Ia menyebut beberapa titik kembali mengalami kebocoran sehingga air sungai mulai menggenangi ruas jalan penghubung Pesanggrahan–Pecakaran.
Menurutnya, pemerintah kecamatan sudah melaporkan kondisi tersebut ke Pusdataru Provinsi Jawa Tengah dan Balai PSDA Pemali Comal sejak awal kejadian, bahkan hingga dua sampai tiga kali surat, tapi hingga kini belum ada penanganan permanen.
Meski begitu, bantuan material berupa tanah merah dari Balai PSDA Pemali Comal tetap mengalir. Dua dump truk material kembali dikirim untuk menambah timbunan sementara.
“Kami khawatir saat musim hujan nanti, apalagi curah hujan di wilayah atas sudah mulai meningkat. Kalau tidak ditangani signifikan, dampaknya bisa lebih luas dari banjir Januari lalu,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan anggaran baik di tingkat kecamatan maupun desa pihaknya mengajak warga tetap menjaga semangat gotong royong. Warga bersama TNI, Polri, OKP, dan perangkat kecamatan terus melakukan pengurukan di titik-titik kritis.
Qoyyum menegaskan bahwa Sungai Sengkarang merupakan kewenangan pemerintah provinsi dan Balai PSDA Pemali Comal.
Oleh karena itu, pihaknya telah mengirimkan laporan kepada Bupati dan Wakil Bupati Pekalongan, DPU Taru Bidang PSDA, BPBD Kabupaten Pekalongan, Pusdataru Jateng, hingga BBWS Pemali Juana.
“Harapan kami, penanganan permanen segera dilakukan. Karung pasir dan timbunan tanah merah kekuatannya terbatas. Setelah satu sampai dua bulan saja kondisinya sudah kritis kembali. Kami butuh penanganan optimal, bukan lagi tanggul darurat,” tegasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Rosyid































