PATI, Lingkarjateng.id – Haul Mas Tumenggung Tjitrodiwirjo, tokoh yang dikenal sebagai Bupati Pati Kulon pada masa kolonial, kembali digelar di Astana Mataraman, Desa Mataraman, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, pada Minggu malam, 21 Juni 2026.
Ratusan warga, tokoh masyarakat, serta keturunan keluarga besar Mas Tumenggung Tjitrodiwirjo hadir untuk mengikuti doa bersama dan ziarah dalam rangka mengenang jasa tokoh sejarah tersebut.
Peringatan yang bertepatan dengan malam 5 Suro atau 5 Muharram itu menjadi agenda tahunan masyarakat setempat untuk menjaga tradisi sekaligus mengingat para pendahulu yang memiliki peran dalam perjalanan sejarah Kabupaten Pati.
Sejak sore hingga malam hari, kawasan Astana Mataraman dipadati peziarah dari berbagai daerah. Mereka mengikuti rangkaian tahlil dan doa bersama yang berlangsung khidmat di kompleks makam yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Mas Tumenggung Tjitrodiwirjo.
Perwakilan Putro Wayah Bupati Pati Kulon, Agus Sunarko, menyampaikan bahwa pelaksanaan haul memiliki makna penting dalam menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan secara istiqomah setiap tahun.
“Kami ingin generasi penerus mengenal para leluhurnya. Dari sana kita bisa belajar, meneladani perjuangan mereka, dan mengambil hikmah untuk kehidupan saat ini,” katanya.
Sementara itu, Kepala Yayasan Surowikromo Juwana, Samudi Hadipuro, mengatakan Mas Tumenggung Tjitrodiwirjo merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pemerintahan di wilayah Pati.
Menurutnya, Mas Tumenggung Tjitrodiwirjo tercatat menjabat sebagai Bupati Pati Kulon pada periode 1743 hingga 1770 sebelum kemudian dipercaya memimpin Demak.
Samudi menyampaikan, dari garis keturunan Tjitrodiwirjo lahir sejumlah tokoh yang kemudian memimpin daerah-daerah di pesisir utara Jawa.
“Mas Tumenggung Tjitrodiwirjo juga dikenal sebagai tokoh yang pernah melakukan perlawanan terhadap VOC pada masanya,” ujar Samudi di sela kegiatan.
Ia menambahkan, sejarah perjuangan dan kepemimpinan tokoh-tokoh lokal perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Selain menjadi ajang doa bersama, haul tersebut juga dimanfaatkan sebagai sarana mempererat silaturahmi antarkeluarga besar keturunan Tjitrodiwirjo dan masyarakat yang selama ini menjaga tradisi tersebut.
Jurnalis: Mohammad Fahtur Rohman
Editor: Rosyid
































