BLORA, Lingkarjateng.id – Merespon viralnya pasien BPJS kesehatan yang meninggal dunia diduga usai menunggu kamar mencapai delapan jam, BPJS Kesehatan Blora mengajak seluruh mitra untuk meningkatkan pelayanan, dengan harapan insiden serupa tidak terjadi lagi.
Diketahui, viralnya hal itu setelah pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan, memposting keluhan di aplikasi Threads yang diunggah dengan keluhan, “8 Jam belum dapat ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake BPJS,” tulis Yurizal pada Rabu, 22 Juli 2026.
Atas postingan tersebut, Yurizal mendapatkan banyak respon negatif, khususnya dari tenaga medis. Setelahnya, salah satu keluarga Yurizal menginformasikan bahwa yang memiliki akun telah meninggal, dan mengungkapkan bahwa yang bersangkutan tidak pernah cerita terhadap penyakit yang dideritanya.
Atas jawaban tersebut, banyak tenaga medis yang sebelumnya menghujat, kembali meminta maaf atas perilaku yang telah melukai pasien BPJS, hingga berujung kematian.
Hingga saat ini, akun Threads Yurizal telah dikunjungi sekitar 13 juta akun atau penayangan. Untuk postingan yang terakhir atas keluhan menjadi pasien salah satu RS, telah mendapatkan respon 82,4 ribu like, 30 ribu komentar dan 10,1 ribu posting ulang.
Kepala BPJS Kesehatan Kabupaten Blora, Mulianto, mengucapkan turut berduka cita dan simpati atas insiden tersebut. Ia berharap insiden serupa menjadi yang terkahir kali di Indonesia.
Ia mengingatkan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) untuk meningkatkan pelayanan yang setara kepada seluruh masyarakat.
“Tentunya kami dari BPJS Kesehatan Blora mengajak seluruh mitra Fasilitas Kesehatan baik FKTP maupun FKRTL untuk terus memberikan layanan yang baik, mudah, cepat dan setara kepada seluruh masyarakat,” ujar Mulianto, Jumat, 7 Agustus 2026.
Selanjutnya, ia menegaskan agar setiap fasilitas kesehatan yang bermitra dengan BPJS Kesehatan dapat menjalankan standar, atau janji mutu layanan.
“Tak hanya itu, indikator kepatuhan, hingga tindakan yang berpotensi Fraud (keuntungan pribadi) atas program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) dapat dihindari,” sambungnya.
Menurutnya, insiden ini menjadi pembelajaran semua pihak, dalam penyelenggaraan program JKN, yang mengutamakan hak pasien berdasar indikasi medis dan kondisi klinis nya. Sehingga setiap masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang telah menjadi hak dasar.
“Utamakan keselamatan nyawa manusia, kedepankan sisi humanisnya, sehingga proses administrasi dapat juga dipenuhi atau ditempuh secara paralel setelahnya,” katanya
Di Kabupaten Blora sendiri, sambung Mulianto, BPJS terus menguatkan sinergi dengan pemerintah daerah, mitra fasilitas kesehatan, organisasi kepemudaan, mahasiswa, legislator dan media dalam mengawal penyelenggaraan JKN yang memiliki tagline “Muceseso” atau Mudah-Cepat-Setara-Solutif.
“Pengawalan dan sinergi dengan lintas sektoral sudah dilakukan. Sehingga kita berharap kendala di lapangan dapat diminimalisir,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinkesda Blora, Edi Widayat, menjelaskan telah melakukan beberapa intervensi dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Di antaranya, saat dilakukan apel pagi hingga pengingat langsung ke management RSUD.
“Selalu mengingatkan bahwa pelayanan publik utamanya adalah RSUD, harus selalu menjaga mutu pelayanan Rumah sakit, menjaga keselamatan pasien dengan patuh dan taat pada SOP,” tegasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Sekar
































