PEKALONGAN, Lingkarjateng.id — Pelaksana Tugas Bupati Pekalongan Sukirman menargetkan penanganan Jembatan Kalijambe-Pantianom yang terdampak longsor selesai paling lambat awal Desember 2026.
Sukirman mengatakan penanganan Jembatan Pantianom digarap dengan pagu anggaran sekitar Rp2,8 miliar.
Pihaknya juga telah meninjau pengerjaan Jembatan Pantianom pada Selasa, 15 September 2026, untuk memastikan pelaksanaannya sesuai perencanaan, baik dari sisi sasaran maupun konstruksinya.
Menurutnya, pengecekan sejak awal diperlukan untuk mengetahui apabila masih terdapat bagian pekerjaan yang perlu dikaji atau didiskusikan dalam proses pelaksanaan.
“Ini sudah pas, sangat pas rencananya. Insya Allah selambat-lambatnya awal Desember jembatan ini sudah bisa tertata dan sudah bisa dilalui dengan sangat nyaman bagi masyarakat,” katanya.
Penanganan jembatan telah dilakukan pasca longsor. Konstruksi diawali dengan pembuatan dinding beton untuk menahan aliran air sungai, kemudian dilanjutkan dengan pengurukan dan pembangunan jalan. Sementara pembangunan turap telah dimulai dua pekan sebelum peninjauan.
Jembatan Pantianom merupakan penghubung wilayah Bojong dan Sragi yang diakses masyarakat untuk berbagai aktivitas.
Oleh karena itu selama pekerjaan berlangsung, arus lalu lintas diberlakukan sistem buka-tutup ole kontraktor bersama pemerintah desa.
“Ya, buka-tutup. Nah, ini juga sudah memakan lahan warga, mestinya kan jalannya yang kita lalui ini sudah memakan lahan warga, tapi enggak masalah, dan nanti diatur oleh kontraktor. Termasuk Pak Kades sudah mengatur lalu lintasnya,” katanya.
Selain Jembatan Pantianom, Sukirman juga meninjau pembangunan ruas Jalan Ponolawen-Kalijambe di Desa Sidosari. Jalan dengan nilai pekerjaan sekitar Rp1,4 miliar tersebut memiliki panjang sekitar 300 meter, lebar 6 meter, dan ketebalan konstruksi sekitar 30 sentimeter.
Peninjauan dilanjutkan ke ruas Jalan Bukur-Ponolawen di Desa Krandon. Pembangunan jalan senilai sekitar Rp1,4 miliar itu telah selesai, dengan panjang sekitar 300 meter, lebar 5 meter, dan ketebalan konstruksi sekitar 30 sentimeter.
Meski telah selesai dibangun, ruas Jalan Bukur-Ponolawen belum dapat langsung digunakan kendaraan. Jalan tersebut masih menunggu masa pemeliharaan sesuai ketentuan teknis konstruksi. Sukirman menyebut masa tunggu tersebut diperlukan agar konstruksi jalan tidak berubah akibat langsung digunakan kendaraan.
“Pembangunan ruas Jalan Bukur-Ponolawen telah selesai. Tinggal menunggu secara teknis periode waktu untuk bisa dilalui. Karena kalau jadi langsung dilalui, pasti ada konstruksi-konstruksi yang berubah. Maka sesuai apa Namanya pengawas, sesuai dengan petunjuknya ini, kesepakatan, memang sesuai aturannya begitu, baru nanti setelah 21 hari baru bisa dilalui. Ini baru seminggu,” ungkapnya.
Sukirman juga meminta masyarakat ikut menjaga infrastruktur yang telah dibangun. Untuk akses menuju rumah maupun warung, warga dapat menyesuaikannya secara mandiri sementara waktu. Sementara itu, penghubung pada ruas pertigaan akan dipikirkan lebih lanjut.
“Yang pertama, tentu saja kita rawat jalan ini baik-baik. Kemudian untuk oprit, terutama di depan rumah dan warung, sementara bisa dibuat secara mandiri. Tetapi untuk yang di ruas-ruas pertigaan, nanti akan dipikirkan oprit atau ruas penghubungnya,” ujarnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Ulfa





























