DEMAK, Lingkarjateng.id – Sedimentasi di Bendung Barang di Desa Banyumeneng, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak sudah parah karena puluhan tahun belum dinormalisasi.
Salah satu warga Desa Sumberejo, Hambali, berharap pemerintah segera melakukan normalisasi Bendung Barang ager kembali mampu mengalirkan dan memenuhi kebutuhan air lahan pertanian masyarakat.
“Harapan kami ada normalisasi Bendung Barang. Bendung ini hulunya sampai ke Rawa Pening. Sudah hampir 45 tahun tidak pernah tersentuh normalisasi,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Sumberejo, Muhibullah. Ia mengatakan sedimentasi Bendung Barang semakin parah menyebabkan penampungan air mengalami kerusakan dan tidak mampu mengairi lahan pertanian di sejumlah wilayah secara optimal.
Menurutnya, aliran Bendung Barang selama ini memiliki peran penting bagi masyarakat di Desa Banyumeneng, Batur, Sumberejo, Kangkung dan Kalitengah, Kecamatan Mranggen. Selain itu, manfaat pengairannya juga dirasakan warga Desa Margohayu, Wonosekar dan Teluk, Kecamatan Karangawen.
“Sampai saat ini Bendung Barang mengalami sedimentasi parah. Akhirnya bendung rusak dan tidak bisa mengairi aliran desa-desa di sekitarnya,” kata Muhibullah.
Pihaknya telah mengusulkan Bendung Barang segera diperbaiki dan dinormalisasi sehingga dapat kembali memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama petani.
“Dampaknya dari kurang maksimalnya fungsi Bendung Barang ini, tidak bisa mengairi warga masyarakat. Kalau musim kemarau seperti saat ini, mengakibatkan gagal panen,” ujarnya.
Muhibullah menyebut sekitar 500 hektare lahan di sejumlah desa di wilayah Mranggen dan Karangawen telah terdampak akibat fungsi bendungan tidak optimal.
Di sisi lain, saat musim penghujan, Bendung Barang juga tidak mampu menampung dan mengatur aliran air secara optimal. Kondisi tersebut berpotensi memicu banjir di sejumlah wilayah.
“Kalau musim penghujan, tidak bisa menyimpan air dan terjadi banjir. Yang terutama terkena itu wilayah Kebonbatur. Tahun kemarin juga sudah masuk ke wilayah Banyumeneng. Gara-gara sedimentasi yang tinggi itu,” jelasnya.
Karena itu, ia berharap pemerintah segera melakukan pengerukan dan normalisasi Bendung Barang.
“Harapan kami segera dikeruk dan dinormalisasi,” tegasnya.
Sementara itu, perwakilan BBWS Pemali Juana, Heru, mengakui kondisi pendangkalan Bendung Barang. Pihaknya akan menyampaikan kondisi tersebut kepada pimpinan untuk mendapat tindak lanjut.
“Berdasarkan kondisi saat ini memang Bendung Barang penuh dengan sedimentasi. Nanti kami sampaikan ke pimpinan, berharap supaya ada tindak lanjut dilakukan pengerukan, walaupun belum bisa meng-cover semuanya,” kata Heru.
Menurutnya, sedimentasi pada sungai maupun bendung dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya perubahan tata guna lahan di wilayah hulu yang dapat meningkatkan aliran material sedimen menuju bagian hilir.
“Sedimentasi ini faktornya banyak, termasuk perubahan tata lahan di bagian hulu. Sebaiknya pemangku wilayah di bagian hulu sungai juga ikut memperhatikan. Kemudian masalah sampah dan lain-lain,” jelasnya.
Heru menegaskan, keberadaan Bendung Barang memiliki fungsi strategis, terutama untuk mendukung sektor pertanian. Produksi pertanian dari wilayah yang mendapatkan manfaat pengairan bendung tersebut dinilai cukup signifikan.
“Bendung Barang ini memang fungsinya sangat strategis, termasuk bagi pertanian. Karena produksi dari hasil tanamannya juga sangat signifikan,” katanya.
Ia berharap pengelolaan dan kondisi Bendung Barang dapat diperbaiki sehingga debit air tetap terjaga dan sedimentasi dapat dikendalikan.
“Kalau debit air di Bendung Barang terjaga dengan baik dan sedimentasinya tidak terlalu banyak, insyaallah mungkin bisa meng-cover kebutuhan air yang ada di wilayah hilir,” pungkasnya.
Jurnalis: M. Burhanuddin Aslam
Editor: Ulfa































