SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menanggapi maraknya remaja yang menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengeluarkan keluh kesahnya atau curhat ketimbang bercerita kepada orang tua.
Pihaknya menyebut, hal ini menjadi keprihatinan sekaligus tantangan yang perlu diatasi melalui keterbukaan dan penguatan komunikasi antara orangtua dan anak.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng, Sumarno, mengungkapkan kecenderungan anak memilih aplikasi tersebut sebagai tempat untuk curhat ini diketahui dari hasil survei dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) terhadap anak-anak di 35 kabupaten/kota.
“Kemarin DP3AP2KB mengadakan survey yang mengungkap anak-anak kalau ada masalah curhatnya ke siapa? AI, bukan ke keluarga, ke bapak ibunya. Ini kan memprihatinkan,” kata Sumarno, Rabu, 15 April 2026.
Penyebab lainya adalah minimnya peran ayah (fatherless) sebagai figur yang seharusnya menjadi media komunikasi untuk anak namun malah abai bahkan diperparah dengan adanya kejadian kriminal yang dilakukan oleh sesama anggota keluarga. Selain itu tayangan keharmonisan keluarga yang diperlihatkan di media sosial membuat anak-anak iri hingga tidak percaya diri.
“Ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Selain itu dengan adanya teknologi, gadget, menjadi salah satu pendorong konflik di keluarga, iri melihat orang lain (di medsos), kalau dulu belum ada (medsos) kita cuma lihat tetangga. Ini menjadi tantangan luar biasa untuk membangun keluarga yang kuat,”ungkapnya.
Maka dari itu, kata Sumarno ,solusi paling awal dalam menangani kasus ini adalah peran orang tua yang harus tegas dalam mengontrol anak menggunakan gadget. Menurutnya, program bangga Kencana yang diinisiasi oleh BKKBN juga mampu menghadapi tantangan pengasuhan di era modern dan perkembangan teknologi AI.
“Dengan program ini kita kembali keluarga bahwa mari kumpul keluarga, letakkan gadget, ngobrol dan sebagainya. Ini sesuatu yang sangat penting untuk membangun keluarga,” tuturnya.
Sementara itu, kepala BKKBN Jateng, Rusman Effendi, mengatakan program miliknya yakni bangga kencana akan menjadi forum untuk menyamakan persepsi. Termasuk menyusun rencana dalam penguatan keluarga sampai tingkat sekolah.
“Jadi nanti harapannya yang selama ini masalah keluarga hanya isu, nanti kita carikan intervensinya seperti program-program prioritas BKKBN yang disebutkan tadi,” kata Rusman.
Termasuk Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) dari BKKBN untuk meningkatkan keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan, pendidikan, dan perlindungan anak guna menciptakan keluarga berkualitas dan mencegah fatherless (kurangnya kehadiran ayah.
“Gerakan ayah teladan Indonesia agar bapak-bapak terus berkomunikasi baik dengan keluarganya agar angka fatherless ini terus berkurang,” katanya.
Jurnalis: Rizky Syahrul Al-Fath
Editor: Rosyid































