KAB. SEMARANG, Lingkarjateng.id – Warga Dusun Kumpulrejo, Desa Candirejo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, mendesak Sungai Kedungringis segera dilakukan normalisasi untuk mencegah terulangnya banjir bandang yang pernah memorak-porandakan permukiman setempat.
Kepala Desa (Kades) Candirejo, Tri Gunawan Setiadi, mengungkapkan kondisi Sungai Kedungringis yang melintasi permukiman setempat semakin memprihatinkan akibat pendangkalan, sedimentasi tinggi, serta rusaknya beberapa dam.
Menurutnya, beberapa dusun saat ini berada dalam zona rawan banjir bandang akibat potensi luapan sungai.
“Banjir bandang ini berpotensi terjadi di sekitar Dusun Kintelan Lor hingga Dusun Kumpulrejo yang diakibatkan luapan air dari Sungai Kedungringis,” katanya, Senin, 8 Desember 2025.
Pria yang akrab disapa Wawan itu menjelaskan, wilayah Dusun Kumpulrejo dan sekitarnya menjadi prioritas pengawasan karena aliran Sungai Kedungringis pernah memicu banjir besar pada 2020. Saat itu, puluhan rumah warga mengalami kerusakan parah.
“Waktu itu banjir bandang terjadi di tahun 2020 dan dusun yang paling parah terdampak itu ialah Dusun Kumpulrejo, karena memang lokasinya berdekatan dengan Rawa Pening yang menjadi muara akhir dari Sungai Kedungringis,” jelasnya.
Wawan menyebut banjir bandang saat itu terjadi akibat debit air yang meningkat drastis setelah hujan 8-10 jam, ditambah curah hujan tinggi dari hulu di Kota Salatiga.
“Di tambah lagi faktor tingginya sedimentasi yang besar di sungai kami ini,” imbuhnya.
Oleh karena itu, pihaknya bersama warga meminta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana segera melakukan normalisasi Sungai Kedungringis.
“Banyak warga kami yang trauma, sehingga warga dan kami dari Pemerintah Desa (Pemdes) Candirejo, Tuntang ini sangat meminta kepada BBWS Pemali Juana untuk segera melakukan normalisasi karena dangkalnya sungai itu akibat sedimentasi yang tinggi, sehingga menghambat aliran air menuju Rawa Pening,” tegasnya.
Selain normalisasi, Pemdes Candirejo juga mendorong sinkronisasi program antara BBWS Pemali Juana, Pemkab Semarang, Pemprov Jateng, dan Pemkot Salatiga, terutama untuk pembangunan set dam di hulu maupun hilir.
“Sinkornisasi program yang kami maksud yaitu untuk pembuatan bendungan atau set dam baik di hulu yang ada di Kota Salatiga, dan di hilir menuju ke Rawa Pening. Memang sudah ada set dam di sungai ini baik yang kecil dan besar di wilayah kami ini, tapi kondisinya memprihatinkan dan tidak berfungsi baik,” imbuhnya.
Wawan menilai keberadaan set dam penting untuk menahan sedimentasi dan sampah sejak dari hulu.
Ia berharap seluruh upaya tersebut dapat mencegah bencana serupa terulang.
“Karena ketika upaya-upaya itu dilakukan, maka aliran air di Sungai Kedungringis ini akan kembali lancar, dan tidak menimbulkan bencana di desa kami,” tutupnya.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Rosyid































