KENDAL, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tengah menyiapkan pengadaan lima unit mesin pirolisis untuk memperluas pengolahan sampah menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif sekaligus mengurangi beban TPA Darupono.
Melalui teknologi pirolisis multi kondensor Gen 50, sampah plastik yang sudah tidak memiliki nilai ekonomis dapat diolah menjadi BBM petasol.
Sekretaris DLH Kabupaten Kendal, Syaiful Huda, mengatakan pengadaan lima unit mesin pirolisis tersebut telah dianggarkan dalam APBD 2026. Menurutnya, saat ini proses pengadaan masih berjalan.
“Tahun 2026 ini akan ada pengadaan untuk lima unit alat pirolisis yang akan digunakan mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif,” jelas Huda.
Menurutnya, kelima mesin tersebut direncanakan ditempatkan di lima eks-kawedanan di Kabupaten Kendal. Lokasi penempatan diprioritaskan pada wilayah yang memiliki Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) dan masih aktif menjalankan kegiatan pengelolaan sampah.
Huda menegaskan, penempatan mesin akan mempertimbangkan kesiapan masing-masing wilayah agar pengadaan peralatan tidak hanya sebatas penyediaan sarana, tetapi benar-benar dapat dioperasikan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
“Jangan sampai nanti ada alatnya, tetapi tidak berfungsi. Untuk operasionalnya kita akan lakukan bersama-sama,” katanya.
Ia menambahkan, lima unit mesin pirolisis tersebut akan ditempatkan pada aset milik pemerintah daerah yang tersebar di lima eks-kawedanan. Dengan begitu, pengolahan sampah diharapkan bisa dilakukan lebih dekat dengan sumbernya.
“Itu nanti akan kita bagi ke lima eks-kawedanan dan akan ditempatkan di aset kita. Intinya ini untuk mengurangi lonjakan sampah di Kabupaten Kendal sehingga nantinya tidak membebani satu-satunya TPA kita yang ada di Darupono,” terangnya.
Ia juga berharap pengadaan mesin pirolisis dapat terus dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya. Penambahan unit dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas pengolahan, khususnya sampah plastik yang selama ini sulit ditangani.
“Kami juga berharap tahun depan bisa pengadaan lagi,” pungkasnya. (Adv)
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Muslichul Basid






























