KENDAL, Lingkarjateng.id – Berangkat dari keluarga petani dan tumbuh dalam lingkungan pesantren, Mahfud Sodiq yang kini dipercaya menjadi Ketua DPRD Kabupaten Kendal periode 2024-2029 dulunya merupakan seorang santri sekaligus pernah menjadi guru.
Mahfud lahir di Desa Curugsewu, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, pada 8 Maret 1984. Ia menempuh pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Miftahul Huda Boja dan Pondok Pesantren Fathul Mubarok Temanggung, sebelum melanjutkan pendidikan tinggi hingga meraih gelar Sarjana Pendidikan Islam dari STAI Walisembilan Semarang (SETIA-WS).
Kedekatannya dengan dunia pendidikan dan pesantren juga tercermin dari perjalanan pengabdiannya. Mahfud pernah menjadi guru wiyata bakti di SD Negeri 3 Sidokumpul. Pada 2008, ia bahkan merintis pendirian MTs NU 29 Patean dan sempat dipercaya memimpin lembaga pendidikan tersebut selama lebih dari satu tahun.
Selain aktif di dunia pendidikan, Mahfud juga tumbuh melalui organisasi NU, khususnya IPNU. Dari lingkungan organisasi inilah semangat kepemimpinan dan pengabdiannya kepada masyarakat semakin terasah.
Perjalanan politiknya dimulai dengan terpilih sebagai anggota DPRD Kendal pada Pemilu 2019. Pada periode 2019-2024, ia dipercaya menjabat Ketua Komisi D yang membidangi kesejahteraan rakyat, pendidikan, kesehatan, dan sosial.
Selama menjabat, Mahfud banyak mengawal aspirasi masyarakat, terutama terkait peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan, termasuk pesantren dan madrasah.
Salah satu kiprah pentingnya adalah ketika dipercaya menjadi Ketua Panitia Khusus (Pansus) Raperda Pesantren yang melahirkan Peraturan Daerah tentang Fasilitasi Penyelenggaraan Pesantren.
Mahfud kemudian ditunjuk menjadi Ketua DPRD setelah PKB meraih suara terbanyak. Ia resmi dilantik pada 4 Oktober 2024 untuk memimpin lembaga legislatif Kabupaten Kendal hingga 2029.
Berangkat dari perjalanan hidupnya, Mahfud berpesan kepada para santri agar memiliki kesempatan yang sama untuk mengambil peran strategis dalam pembangunan.
“Santri juga memiliki tanggung jawab besar terhadap bangsa ini. Terbukti, banyak santri yang memegang kebijakan di negeri ini, termasuk di Kabupaten Kendal,” ungkapnya.
Ia berpesan agar para santri tidak minder ataupun berkecil hati dalam menghadapi tantangan zaman.
“Jangan pernah merasa kecil hanya karena berasal dari pesantren atau keluarga sederhana. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Yang terpenting adalah terus belajar, menjaga akhlak, dan berani mengambil kesempatan,” pesannya.
Ia berharap para santri tidak menguasai ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan, teknologi, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dan pembangunan.
“Santri pasti bisa menjawab tantangan zaman dan ikut mewujudkan generasi Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
“Dari pesantren, santri diharapkan mampu melahirkan gagasan, mengambil keputusan, serta hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa,” pungkasnya. (Adv)
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Sekar































