DEMAK, Lingkarjateng.id – Ancaman El Nino Godzilla yang mengakibatkan kemarau ekstrem menjadi kekhawatiran petani di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Fenomena ini diprediksi terjadi mulai April hingga Oktober 2026 dan berpotensi mengganggu aktivitas warga terutama produktivitas di sektor pertanian.
Meski begitu, hujan masih turun di sejumlah wilayah Demak sehingga belum ada laporan adanya wilayah yang mengalami krisis air.
Salah seorang warga Sambung, Gajah, Hermawan mengatakan berdasarkan pengalaman kemarau di tahun sebelumnya, warga kesulitan mendapatkan air bersih lantaran sumur mengering.
“Kalau tahun-tahun sebelumnya memang sulit pas kemarau. Sumur kering, sungai surut tidak ada airnya. Mau tidak mau harus beli pakai jerigen atau mengandalkan bantuan droping air bersih dari pemerintah. Kadang juga ngungsi ke tetangga yang sumurnya masih ada airnya,” ujarnya, Minggu, 12 April 2026.
Kondisi itupun membuatnya khawatir karena fenomena kemarau ekstrem yang berlarut akan berdampak pada aktivitas serta pengeluaran biaya lebih.
“Kita harus membeli air itu kan membutuhkan uang lebih,” ungkapnya.
Sektor Pertanian Terancam
Kecemasan terkait datangnya kemarau panjang atau fenomena El Nino juga dirasakan oleh para petani di Kabupaten Demak. Saat ini sejumlah wilayah di Demak, termasuk di Desa Sambung, Kecamatan Gajah tengah melangsungkan masa tanam padi MT ke-dua sejak Februari lalu.
Meski didukung sistem irigasi, para petani menyadari bahwa aliran air bisa berkurang drastis saat kemarau panjang terjadi.
“Ini MT dua. Sampai sekarang ini air masih aman, masih ada hujan juga,” ujar Suparno salah seorang petani di Desa Sambung.
Suparno mengatakan padi yang ia tanam pada MT ke-dua kali ini sudah berumur sekitar dua bulan. Yang mana diperkirakan akan melangsungkan panen pada Mei mendatang.
“Kemarin tanam itu Februari, paling tidak untuk panennya sekitar Mei,” jelasnya.
Ia menambahkan, setelah panen MT ke-dua para petani di Desa Sambung biasanya akan melanjutkan MT ke-tiga atau tanam palawija.
“Kalau setelah MT dua petani di sini biasanya memang lanjut palawija,” ujarnya.
Dia menjelaskan, pada masa tanam palawija, petani tidak banyak membutuhkan air untuk proses dan keberlangsungan masa tanam tersebut.
“Kalau palawija itu memang biasanya musim kemarau. Tanam kacang hijau kalau di sini biasanya. Itu tidak banyak membutuhkan air,” jelasnya.
Jika prediksi kemarau panjang sampai Oktober 2026, ia mengakui masa tanam padi setelah palawija akan berdampak.
“Kemungkinan akan mengganggu pelaksanaan tanam padi mendatang. Biasanya setelah palawija ini kan kembali tanam padi. Itu biasanya di Oktober atau November,” tambahnya.
Ia pun berharap saat pelaksanaan masa tanam padi ketersediaan air bisa tercukupi.
Upaya Mitigasi Pemkab Demak
Disisi lain, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyatakan telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna menghadapi dampak kemarau panjang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Demak, Rezki Sulistiyanto Soedibyo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan sosialisasi secara masif terkait potensi dampak El Nino Godzilla.
“Kami berdasarkan data dari BMKG sudah melakukan penyebaran informasi kepada masyarakat, khususnya melalui media sosial, terkait potensi El Nino yang diperkirakan terjadi mulai April hingga Oktober,” ujarnya saat dihubungi, Minggu, 12 April 2026.
Tak hanya sosialisasi, BPBD juga akan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat melalui pembentukan desa tangguh bencana (destana) bagi desa yang tergolong rawan kekeringan.
“Pada 29 April nanti kami akan menggelar pelatihan dan pembentukan desa tangguh bencana secara serentak, terutama di wilayah rawan kekeringan. Ini menjadi langkah awal kami dalam penguatan mitigasi,” tambahnya.
BPBD juga telah menyiapkan langkah konkret berupa droping air bersih bagi wilayah yang terdampak kekeringan.
“Yang jelas Pemkab melalui BPBD sudah menyiapkan anggaran untuk droping air bersih. Namun jumlah distribusinya akan disesuaikan dengan kondisi nanti. Kami juga memiliki tandon air berkapasitas 5.000 hingga 6.000 liter yang bisa didistribusikan ke desa yang membutuhkan,” jelasnya.
Meski demikian, keterbatasan infrastruktur penampungan air seperti embung masih menjadi tantangan tersendiri di wilayah Demak. Namun, BPBD berharap desa-desa yang berpotensi mengalami kekeringan dapat segera berkoordinasi agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
Rezki menambahkan, hingga saat ini Pemkab Demak belum menetapkan status darurat kekeringan karena kondisi di lapangan masih dinilai belum mengkhawatirkan.
“Untuk saat ini belum ada penetapan status darurat kekeringan. Namun kami terus melakukan koordinasi dengan BMKG untuk memantau perkembangan,” ujarnya.
“Ini merupakan anomali cuaca. Kadang tidak sesuai prediksi. Meski begitu, saat ini memang masih masa peralihan, sehingga panas dan hujan masih terjadi secara bergantian,” tutupnya.
Jurnalis: A Burhanuddin Aslam
Editor: Sekar





























