DEMAK, Lingkarjateng.id – Kasepuhan Kadilangu menerima penyerahan abon-abon atau ubo rampe penjamasan pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat menjelang pelaksanaan tradisi jamasan pusaka di Kabupaten Demak.
Prosesi penyerahan berlangsung khidmat di Pendopo Notobratan Kadilangu dan menjadi bagian dari rangkaian Grebeg Besar Demak 2026. Tradisi penjamasan pusaka dijadwalkan berlangsung pada 10 Dzulhijah bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.
Bupati Demak, Eisti’anah, menyampaikan apresiasi kepada keluarga Kasepuhan Kadilangu yang telah melibatkan Pemerintah Kabupaten Demak dalam prosesi budaya tersebut.
Menurutnya, tradisi yang terus berlangsung hingga kini menunjukkan komitmen masyarakat dalam menjaga warisan sejarah dan budaya Islam di Kota Wali.
“Alhamdulillah serta terima kasih kami haturkan kepada keluarga Kasepuhan Kadilangu yang telah melibatkan kami dari jajaran Pemkab Demak dalam acara silaturahmi sekaligus penyerahan abon-abon ubarampe tradisi jamasan pusaka Sunan Kalijaga,” ujarnya, Minggu, 24 Mei 2026.
Ia menegaskan, pelestarian budaya leluhur menjadi bagian penting dari penghormatan terhadap para pendahulu. Tradisi yang diwariskan turun-temurun dinilai harus tetap dijaga di tengah perkembangan zaman.
“Termasuk di antara tindakan menghormati orang tua adalah melestarikan tradisi budaya yang ditinggalkan,” tambahnya.
Selain sebagai pelestarian budaya, Eisti’anah berharap Grebeg Besar dan tradisi penjamasan pusaka dapat memperkuat sektor pariwisata religi di Kabupaten Demak. Potensi sejarah dan budaya yang dimiliki Demak dinilai mampu menarik wisatawan sekaligus mendorong perekonomian masyarakat.
Dalam prosesi tersebut, minyak jamas dari Pakubuwono XIV, KGPAA Hamangkunegoro atau Gusti Purbaya, serta KGPHA Dipokusumo diserahkan kepada sesepuh ahli waris Sunan Kalijaga, H.R. Muhammad Cahyo Iman Santoso.
KGPHA Dipokusumo mengatakan tradisi abon-abon dan Penjamasan Pusaka merupakan warisan budaya yang telah berusia lebih dari lima abad dan perlu dijaga bersama sebagai bagian dari identitas bangsa.
Prosesi abon-abon tahun ini juga berlangsung lebih meriah dengan keterlibatan Prajurit Bintoro dan Prajurit Patiunus yang bersinergi bersama prajurit Kasunanan Surakarta Hadiningrat serta Sentono Abdi Dalem Ahli Waris Sunan Kalijaga.
Iring-iringan prajurit yang mengenakan busana adat khas masing-masing menarik perhatian ribuan warga yang memadati jalur prosesi menuju Pendopo Notobratan Kadilangu. Suasana berlangsung meriah namun tetap penuh kekhidmatan.
Koordinator Prajurit, Sunu, mengatakan keterlibatan para prajurit dalam prosesi adat menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan budaya dan sejarah leluhur.
“Momentum abon-abon bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga simbol persatuan, kekompakan, dan penghormatan kepada para leluhur. Kami bangga bisa bersinergi bersama prajurit Kasunanan Surakarta dan Sentono Kadilangu untuk menjaga kelancaran serta kekhidmatan prosesi ini,” katanya.
Sementara itu, Endah Cahya Rini menilai kebersamaan prajurit dari Demak dan Kasunanan Surakarta menjadi simbol masih terjaganya nilai persatuan dan penghormatan terhadap budaya leluhur.
“Melalui event Grebeg Besar inilah kita tunjukkan kepada wisatawan bahwa Demak bukan hanya kota bersejarah, tetapi juga kota yang kaya akan tradisi hidup yang terus dijaga dengan sepenuh hati oleh masyarakatnya,” ujarnya.
Jurnalis: M. Burhanuddin Aslam
Editor: Rosyid

































