PATI, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor perikanan, khususnya perikanan tangkap laut yang menjadi salah satu andalan perekonomian daerah.
Pelaksana tugas Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menyampaikan dukungan tersebut saat menghadiri tradisi sedekah laut di TPI Unit II Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Minggu, 29 Maret 2026.
“Sebagai wujud dukungan nyata terhadap sektor perikanan yang selama ini menjadi andalan Kabupaten Pati, kami juga hadir dalam acara sedekah laut yang telah menjadi tradisi tahunan masyarakat,” kata Chandra.
Ia menegaskan, kehadiran pemerintah tidak hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal, tetapi juga untuk mendoakan keberkahan bagi para nelayan agar hasil tangkapan melimpah, harga jual stabil, dan pemasaran berjalan lancar.
Tradisi sedekah laut sendiri berlangsung selama beberapa hari, mulai Jumat hingga Selasa, 27-31 Maret 2026, dengan berbagai kegiatan seperti pertunjukan ketoprak, kesenian rakyat, dan hiburan masyarakat.
Di sisi lain, kinerja sektor perikanan tangkap di Kabupaten Pati menunjukkan capaian signifikan. Sepanjang 2025, produksi perikanan tangkap tercatat mencapai 64,59 juta kilogram dengan nilai produksi sekitar Rp1,1 triliun.
Produksi tersebut berasal dari berbagai jenis alat tangkap yang digunakan nelayan, di antaranya pukat cincin, pancing, jaring cumi, jaring insang, trammelnet, krikit atau dogol, hingga bubu.
Dari sisi komoditas, ikan layang menjadi penyumbang terbesar dengan volume 28,64 juta kilogram dan nilai sekitar Rp610 miliar. Disusul ikan lemuru atau sero sebanyak 15,84 juta kilogram dengan nilai lebih dari Rp207 miliar.
Selain itu, ikan kuniran tercatat 6,32 juta kilogram dengan nilai sekitar Rp48,2 miliar, sementara ikan tongkol mencapai 6,02 juta kilogram dengan nilai produksi sekitar Rp100,5 miliar.
Secara umum, alat tangkap pukat cincin masih mendominasi hasil tangkapan, terutama untuk ikan pelagis seperti layang. Meski demikian, sejumlah komoditas lain tetap memiliki nilai ekonomi tinggi meski volumenya lebih kecil.
Capaian tersebut menegaskan bahwa sektor kelautan dan perikanan masih menjadi penopang utama ekonomi daerah. Dengan nilai produksi yang melampaui Rp1,1 triliun, subsektor perikanan tangkap dinilai memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.
Pengembangan tersebut meliputi peningkatan produktivitas, kualitas hasil tangkapan, hingga penguatan akses pasar bagi nelayan.
Selain perikanan tangkap, Pemkab Pati juga mendorong pengembangan sektor budi daya ikan air tawar. Sejumlah komoditas seperti nila salin, bandeng, dan udang dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah pesisir.
Pemkab Pati kini tengah mengoptimalkan pengembangan desa-desa pesisir berbasis budi daya guna memperkuat sektor perikanan secara berkelanjutan.
Jurnalis: Ant
Editor: Rosyid































