KENDAL, Lingkarjateng.id – Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari harapkan para petani hutan dapat meningkatkan produktivitas, mampu mengelola, mengolah, dan memasarkan hasil hutan dengan pendekatan hilirisasi skala mikro atau mini hilirisasi.
Hal itu ia sampaikan, dalam kegiatan Pendidikan Tani Hutan yang digelar di Pendopo Tumenggung Bahurekso Setda Kendal, Selasa, 5 Agustus 2025.
Sehingga komoditi unggulan seperti aren, kopi, alpukat dan lainnya tidak berhenti pada penjualan bahan mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah.
“Dengan begitu, mampu membuka peluang pasar dan meningkatkan pendapatan,” ujar Bupati Kendal.
Selain itu, juga dibutuhkan kolaborasi semua pihak untuk mendorong terciptanya ekosistem ekonomi hutan yang berkelanjutan, yang terintegrasi dengan jasa lingkungan dan potensi ekowisata desa.
“Diharapkan menjadi model pemberdayaan yang mampu menjawab dua tantangan utama kawasan hutan yakni, kemiskinan struktural dan degradasi lingkungan,” harapnya.
Sementara itu, Ketua PW STN Jawa Tengah Pendamping Karya Putra Desa, Bagas Ardianto Saputra mengatakan, kegiatan Pendidikan Tani Hutan bertujuan membangun paradigma baru dalam pengelolaan hutan yang keberlanjutan.
Kemudian, mendukung terciptanya ekosistem ekonomi hutan yang terintegrasi dengan jasa lingkungan dan potensi ekowisata desa.
“Serta memetakan kendala-kendala kelompok petani hutan dalam membangun ekonomi sekuler dari proses hulu hingga hilir agar dapat dirumuskan dalam program kerja strategis dan catatan penting,” ujarnya.
Menurutnya, program strategis yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas, keterampilan, dan kesadaran ekologis petani yang berada di kawasan hutan, khususnya mereka yang mengelola lahan dalam kawasan hutan negara.
“Program ini untuk memperkuat keterampilan teknis petani hutan, meningkatkan kualitas dan nilai tambah produksi hasil hutan, serta mendorong perubahan paradigma menuju sistem mini hilirisasi yang berkelanjutan dan berkeadilan,” tambahnya.
Maka dari itu, hilirisasi hasil hutan menjadi langkah yang tidak bisa ditawar maupun ditunda lagi.
Tahun ini, Pendidikan Tani Hutan tidak hanya berfokus pada aspek edukasi pengolahan hasil hutan, tetapi juga diarahkan pada pembangunan ekosistem ekonomi berbasis masyarakat.
Melalui penguatan jasa lingkungan dan pengembangan ekowisata berkelanjutan, program ini mendorong terciptanya sistem pemasaran yang unggul dan inklusif, yang mampu memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar hutan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
“Program ini juga sejalan dengan arah kebijakan nasional, di mana Presiden Republik Indonesia secara konsisten mendorong percepatan hilirisasi di berbagai sektor, termasuk sektor kehutanan dan pertanian,” lanjutnya.
Dengan demikian, Pendidikan Tani Hutan dan program Mini Hilirisasi merupakan wujud konkret kontribusi masyarakat kawasan hutan dalam mendukung transformasi ekonomi nasional berbasis bioekonomi dan keberlanjutan.
Jurnalis: Arvian Maulana
Editor: Sekar S
































