Kab. Semarang (lingkarjateng.id) – Ribuan masyarakat tumplek blek memeriahkan tradisi Karnaval Jolenan di Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang pada rangkaian Merti Desa pada Sabtu (18/7).
Kepala Desa Kemetul, Agus Sudibyo mengatakan bahwa Jolenan tersebut merupakan kegiatan Merti Desa Kemetul yang diselenggarakan setiap tahunnya, dengan tujuan selamatan desa dan seisinya yang diikuti oleh seluruh warga Desa Kemetul, di Susukan, Kabupaten Semarang.
“Sehingga Jolenan ini adalah tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun, dan Jolenan sendiri punya makna yakni Ojo Kelalen, di mana artinya kita sebagai manusia jangan lupa terhadap Allah SWT yang telah memberikan nikmat selama satu tahun ini,” ungkapnya.
“Jolenan kali ini, juga merupakan sebagai wujud syukur seluruh warga masyarakat. Alhamdulillah pada tahun ini kami mendapatkan hasil panen yang sangat melimpah,” imbuhnya.
Agus mengungkapkan Desa Kemetul memiliki petani-petani milenial yang jumlahnya cukup besar. Selain itu juga memiliki Dem Area (Demonstrasi Area) untuk ditanami beras atau padi semi organik menuju beras sehat.
“Alhamdulillah kemarin kami bisa mencapai target panen beras semi organik menuju beras sehat sampai di angka 9 ton untuk per Hektare (Ha)-nya di Dem Area kami,” bebernya.
Kegiatan Jolenan ini, sengaja mengangkat tema Ketahanan Pangan karena Desa Kemetul, ingin mendukung serta mewujudkan target pemerintah, baik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng), dan Pemerintah Pusat.
“Bahwa negara yang kuat itu didasari oleh ketahanan pangan di wilayah masing-masing, dan Alhamdulillah di sini warganya rata-rata petani sehingga apapun hasil buminya itu ada di sini,” tukasnya.
Di kesempatan itu, Agus Sudibyo juga menjelaskan Desa Kemetul juga telah melakukan riset khususnya untuk mengembangkan padi semi organik menuju beras sehat. Sehingga mampu menyehatkan tanah dan mampu meningkatkan hasil panen, beras sehat, aman dikonsumsi.
“Dan kami bersyukur dari tahun ke tahun kami selalu ada peningkatan pada hasil panennya, dan ini sudah kami lakukan selama dua tahun artinya sudah empat kali musim panen, dan dari setiap sekali panennya itu ada peningkatan hasilnya,” ujarnya.
Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Semarang, Muzayinul Arif mengatakakan pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan Jolenan yang setiap tahun digelar dengan tema berbeda-beda.
“Jolenan ini selalu diwarnai aksi protes-protes model rakyat pedesaan terhadap kondisi rill. Jolen itu kan bahasa yang artinya Ojo Ngasi Lalen (jangan sampai lupa/kelupaan, red) artinya kita jangan lupa terhadap tanah yang sudah memberikan kehidupan untuk kita, dan masyarakat petani,” terangnya.***
Jurnalis : Hesty Imaniar
Editor : Redaksi































