BLORA, Lingkarjateng.id – Nilai ekspor produk asal Kabupaten Blora pada triwulan I 2026 mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dindagkop UKM) Blora mencatat nilai ekspor mencapai sekitar USD1.398.692 atau setara Rp23,8 miliar, naik sekitar Rp10 miliar dibandingkan triwulan I 2025.
Pada triwulan I 2025, nilai ekspor Kabupaten Blora tercatat sebesar USD795.809 atau sekitar Rp13 miliar berdasarkan kurs Rp16.413,81 per dolar AS. Sementara pada tahun ini, dengan kurs Rp17.028 per dolar AS per 7 April 2026, nilai ekspor meningkat menjadi sekitar Rp23,8 miliar.
Kepala Dindagkop UKM Blora, Kiswoyo, mengatakan peningkatan tersebut didorong oleh tiga komoditas unggulan daerah, yakni furnitur berbahan kayu jati, briket arang dari batok kelapa, serta produk olahan daun kelor yang permintaannya terus meningkat di pasar internasional.
“Produk olahan daun kelor sedang naik daun, khususnya di pasar Malaysia. Banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku produk herbal, suplemen kesehatan, hingga kosmetik,” kata Kiswoyo, Selasa, 30 Juni 2026.
Ia menyebut rata-rata nilai ekspor dari Kabupaten Blora mencapai sekitar USD400 ribu setiap bulan. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah dinilai turut meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar luar negeri.
“Pelemahan rupiah dampak dominonya itu terhadap harga barang dari Indonesia jadi lebih murah,” katanya.
Meski demikian, Kiswoyo menilai nilai ekspor riil dari Kabupaten Blora sebenarnya masih berpotensi lebih besar. Sebab, sebagian produk furnitur berbahan kayu jati masih dipasarkan menggunakan merek dari luar daerah sehingga pencatatan ekspornya dilakukan di daerah asal merek tersebut.
“Selama ini banyak produk olahan kayu jati Blora yang menggunakan brand dari Jepara, jadi tercatatnya disana (Jepara),” ungkap Kiswoyo.
Menurutnya, produk asal Blora kini telah menembus berbagai pasar internasional di kawasan Asia, Eropa, Timur Tengah, Australia, hingga Amerika Serikat. Negara tujuan ekspor antara lain Jepang, Malaysia, India, Turki, Bulgaria, Amerika Serikat, Lebanon, Kuwait, Qatar, Prancis, Spanyol, Italia, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan sejumlah negara lainnya.
Sementara itu, komoditas briket arang batok kelapa dipasarkan ke Lebanon, sejumlah negara di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Dubai, dan India.
“Produk ini dimanfaatkan untuk kebutuhan barbecue, penghangat ruangan, hingga bahan bakar rokok,” ujarnya.
Adapun furnitur berbahan kayu jati asal Blora telah dipasarkan ke Jerman, Amerika Serikat, Prancis, Spanyol, Italia, Arab Saudi, serta sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Kiswoyo menilai perluasan pasar ekspor tersebut menunjukkan produk unggulan Kabupaten Blora memiliki daya saing dan mampu memenuhi standar pasar internasional.
“Peningkatan nilai ekspor ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperluas pasar produk lokal, serta membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat Kabupaten Blora,” katanya.
Untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha, Kabupaten Blora dalam waktu dekat juga akan memperoleh kuota pendampingan bagi 25 pelaku usaha melalui Export Center Surabaya (ECS). Program tersebut ditujukan untuk mencetak eksportir baru sekaligus memperluas akses pasar produk unggulan daerah.
“Saat ini kita ajak eksportir dan pengusaha yang berpotensi ekspor hasil olahan dari Blora untuk mengikuti ECS. Diharapkan calon eksportir banyak yang berminat, sehingga nantinya produk dari Blora lebih dikenal di luar negeri,” pungkasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid































