BLORA, Lingkarjateng.id – Bupati Blora, Arief Rohman, mengaku kecewa karena proyek pembangunan Pasar Ngawen senilai sekitar Rp30 miliar belum rampung sesuai target. Padahal, pihaknya berharap pasar tersebut dapat digunakan dan diresmikan bertepatan dengan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Kekecewaan itu disampaikan Arief setelah melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama jajaran Forkopimda ke lokasi pembangunan beberapa hari lalu. Pengecekan dilakukan untuk memastikan percepatan pekerjaan yang sebelumnya telah diminta Pemkab Blora.
Sebelumnya, proyek tersebut mendapat perpanjangan waktu pengerjaan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) hingga 13 Agustus 2026. Pasalnya, dari target awal 13 Juli 2026, progres pembangunan baru 80 persen.
Berdasarkan laporan per 31 Juli 2026, progres pembangunan baru mencapai 82,72 persen. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada 13 Agustus 2026, tetapi saat sidak masih ditemukan sejumlah pekerjaan yang belum dituntaskan.
“Terus terang kalau dikatakan kecewa, ya kecewa. Karena beberapa waktu yang lalu kami sudah datang ke sini dan sudah kami ingatkan agar ada percepatan-percepatan. Ternyata masih ada sekitar 10 persen,” kata Arief.
Menurut Arief, pembangunan Pasar Ngawen memiliki posisi penting karena merupakan bagian dari program nasional sekaligus proyek prioritas yang ditunggu masyarakat, khususnya pedagang. Pasar diharapkan segera kembali beroperasi setelah seluruh pekerjaan selesai.
Saat sidak, Pemkab Blora bersama pihak pelaksana memeriksa sejumlah bagian bangunan yang masih membutuhkan penyelesaian. Pemerintah daerah meminta Kementerian PU dan kontraktor mempercepat pekerjaan agar keterlambatan tidak semakin panjang.
“Kita berharap, baik dari kementerian maupun pelaksana, bisa menyelesaikan secepatnya. Masyarakat sudah menunggu untuk segera diresmikan dan segera digunakan,” ujarnya.
Arief mengatakan, sejak awal Pemkab Blora menargetkan Pasar Ngawen dapat diresmikan pada momentum peringatan kemerdekaan. Namun, perkembangan pekerjaan di lapangan membuat rencana tersebut terancam meleset.
“Kita mimpinya momen tujuh belasan bisa kita resmikan. Tapi kalau melihat kondisi seperti ini, tidak sesuai ekspektasi yang kita inginkan,” pungkasnya.
Jurnalis: Hanafi
Editor: Rosyid

































