Blora (lingkarjateng.id) – Mbah Samijah (71) Lansia warga Desa Gagakan, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, yang hidup sebatang kara dengan kondisi rumah tak layak huni, kini mendapat perhatian publik berupa bantuan dari Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Blora.
Ketua IPSM Blora, Yannanta Laga Kusuma, mengatakan peran masyarakat dengan media sangat krusial, dalam mendeteksi kasus sosial masyarakat. Laga yang mengunjungi langsung kediaman Samijah, menyebut kedatangannya usai adanya pemberitaan terhadap kondisi Mbah Samijah.
“Kami berharap teman-teman media ataupun masyarakat bisa bersinergi dengan pemangku wilayah masing-masing,” ujar Laga saat mengunjungi kediaman Samijah, Sabtu (12/09/2026).
Menurut Laga yang juga Kepala Desa Bangsri, Kecamatan Jepon, bila terdapat temuan kasus sosial di tingkat desa, dapat langsung dikoordinasikan ke pemerintah desa (Pemdes) setempat. Sehingga dapat ditindaklanjuti atas temuan tersebut.
“Bisa langsung dilaporkan dan dikoordinasikan dengan Pak Kades setempat, lalu disampaikan ke kami untuk segera ditindaklanjuti,” terangnya.
Laga menerangkan, IPSM Blora menangani beragam persoalan sosial, mulai dari krisis air bersih, pendampingan kesehatan, anak terlantar, putus sekolah, hingga kelompok rentan lainnya dan berkoordinasi lintas sektor dengan pihak Kecamatan, Dinas Kesehatan, maupun Dinas Sosial.
Kendati demikian, ia mengungkapkan IPSM Blora baru memiliki kepengurusan. Namun ia menegaskan IPSM harus bergerak cepat. Salah satu aksi nyata adalah penanganan dua anak terlantar di Desa Temurejo, yang hidup tanpa listrik dan belajar hanya dengan penerangan senter.
IPSM memberikan sepeda listrik dan sepeda gowes, serta menyiapkan modal usaha agar ibu mereka yang bekerja di luar pulau dapat pulang dan mengasuh anak-anaknya sendiri.
“Yang paling mengesankan belakangan ini adalah penanganan dua anak terlantar yang hidup tanpa listrik di rumah, untuk belajar saja mereka pakai senter,” ujarnya.
“Selain memberi bantuan sepeda, kami juga membantu memulangkan ibunya dari luar pulau dan menyokong modal usaha agar beliau bisa mengasuh anaknya sendiri di rumah,” sambung Laga.
Sementara itu, Kepala Desa Gagakan, Sugiarto, enggan memberikan komentar terhadap kondisi warganya, yang masih bertahan hidup dengan kondisi rumah tidak layak huni (RTLH).
Padahal, Desa Gagakan tercatat menerima kuota 5 unit program RTLH dari Bantuan Provinsi tahun 2025, serta 11 unit bedah rumah dari aspirasi tahun ini. Namun kuota tersebut belum menyentuh Samijah, yang hidup di rumah hampir rubuh.
“Gak sesok ae sesok ae, Wes Yo tanggapane apik ngono ae,” ucapnya sambil berlalu, Sabtu (12/9/2026).
Ditanya lebih lanjut terkait status tanah yang menghambat bantuan, Sugiarto terlihat bergegas pergi dan menjauh dari awak media. “Besok-besok,” ujarnya seraya menaiki sepeda motornya.***
Jurnalis : Eko Wicaksono
Editor : Adi Arfian






























