KENDAL, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten Kendal mendorong pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) dan sektor pariwisata melalui kolaborasi lintas sektor.
Untuk itu, Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kendal menggelar Sosialisasi Pengembangan Ekonomi Kreatif Pariwisata untuk membangun kolaborasi sekaligus membuka peluang pemasaran produk dan jasa ekraf mampu menembus pasar yang lebih luas.
Kepala Bidang Pariwisata Disporapar Kabupaten Kendal, Ahmad Syahrul Falah, mengatakan salah satu strategi pemerintah adalah memperkuat pemasaran dan ekspansi pasar melalui kerja sama dengan berbagai pihak.
Kolaborasi dilakukan bersama DPRD, Komite Ekraf, dan Kawasan Industri Kendal (KIK), sehingga perusahaan maupun investor di daerah dapat ikut menggunakan produk dan jasa pelaku ekraf lokal.
“Salah satu peluang yang dapat dikembangkan diantaranya melibatkan kesenian tradisional seperti barongan dan jaran kepang dalam berbagai kegiatan atau event yang diselenggarakan perusahaan di kawasan industri,” terang Syahrul, Jumat, 11 September 2026.
Disporapar Kendal juga menjajaki kerja sama dengan sektor perhotelan. Produk unggulan seperti kopi diharapkan dapat dipasarkan melalui jaringan hotel di luar daerah.
“Strategi pemasaran tidak hanya dilakukan di Kendal, tetapi juga dengan memperluas jaringan ke daerah lain seperti Semarang, Solo, Yogyakarta, Batang dan Temanggung,” ujarnya.
Kemudian, pengembangan pasar juga dilakukan melalui optimalisasi Tourism Information Center (TIC) Mobile berupa armada bus Hino.
“Armada tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana promosi, ekspansi dan mengikuti berbagai pameran maupun event pariwisata di luar daerah,” ungkapnya.
Selain itu, pemasaran digital menjadi cara untuk meraih audiens lebih banyak melalui berbagai media sosial serta jaringan paguyuban dan komunitas masyarakat Kendal di berbagai daerah seperti Batam dan Jakarta.
“Tidak hanya memperluas pasar, peningkatan kualitas dan nilai tambah produk juga menjadi perhatian. Salah satunya melalui pembenahan kemasan atau packaging agar produk lokal memiliki tampilan lebih menarik dan nilai jual yang lebih tinggi,” bebernya.
Syahrul mencontohkan produk tape singkong dari wilayah Sumur. Produk yang sebelumnya dijual sekitar Rp3.000 kini nilai jualnya lebih tinggi mencapai Rp15.000 hingga Rp25.000 ketika dikemas lebih menarik.
“Disporapar juga memberikan fasilitasi terkait Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk melindungi produk lokal, termasuk produk batik seperti Batik Wiji dan Batik Pramesti. Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan kompetensi pelaku ekraf melalui sertifikasi, di antaranya sertifikasi MICE dan barista,” tandasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kendal, Sulistiyo Ari Wibowo, menekankan pentingnya membangun hubungan yang lebih kuat antara dunia usaha, pemerintah dan masyarakat.
“Keberadaan kawasan industri di Kendal seharusnya dapat memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian masyarakat, termasuk membuka peluang bagi pelaku ekonomi kreatif dan pariwisata lokal,” katanya.
Ia mencontohkan perkembangan industri di kawasan Kaliwungu yang sejak lama dikelilingi perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) berorientasi ekspor, seperti PT Kayu Lapis Indonesia (KLI) dan PT Rimba Partikel Indonesia.
Sulistiyo juga mengungkapkan pengalaman masa lalu terkait besarnya serapan tenaga kerja industri. Saat dirinya mulai bekerja sebagai buruh pabrik pada 13 Juni 1997, PT KLI disebut memiliki sekitar 10.000 karyawan. Sementara Texmaco Group pada masa itu memiliki sekitar 12.000 karyawan dengan cakupan produksi mulai dari benang, kain hingga material infrastruktur.
“Kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi dunia industri dalam menggerakkan perekonomian daerah apabila dapat disinergikan dengan sektor lainnya,” jelasnya.
Sulistiyo juga menjelaskan pentingnya pembagian peran antara pemerintah daerah dan DPRD. Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014, pemerintah daerah terdiri dari unsur eksekutif dan legislatif yang memiliki peran dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.
“Dengan kolaborasi antara pemerintah, DPRD, industri, pelaku ekraf dan masyarakat, pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata diharapkan tidak hanya meningkatkan promosi daerah, tetapi juga menciptakan peluang usaha, meningkatkan nilai produk lokal, serta memperluas kesejahteraan masyarakat Kabupaten Kendal,” pungkasnya. (Adv)
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Ulfa




























