REMBANG, Lingkarjateng.id – Dugaan keracunan massal usai mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang. Insiden ini memicu kekhawatiran di kalangan orang tua siswa, terutama emak-emak yang anaknya menjadi korban.
Sejumlah warga Desa Balongmulyo mengaku resah karena kejadian serupa disebut bukan yang pertama. Bahkan, beberapa orang tua menyatakan anak mereka telah dua kali mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut di sekolah.
Salah satu wali murid, Windarsih (42), mengatakan kedua anaknya pernah terdampak dalam dua peristiwa berbeda. Anak pertamanya yang duduk di bangku SMP sebelumnya mengalami keracunan, dan kini kejadian serupa menimpa anaknya yang masih bersekolah dasar.
“Ya saya minta lebih hati-hati. Di Kragan ini kejadian sudah dua kali. Anak saya yang SMP waktu itu juga kena, di SMP 1 Kragan. Sekarang anak saya yang SD juga kena,” ujarnya saat ditemui, Selasa, 21 April 2026.
Windarsih mengaku mulai kehilangan kepercayaan terhadap pelaksanaan program MBG.
“Saya sebagai orang tua takut sama program MBG ini. Harapan saya nggak usah dikasih lagi lah. Kalau bisa diganti uang tunai, biar orang tuanya yang memberikan makanan,” tambahnya.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Miyati (41), warga setempat yang mengaku trauma setelah anaknya kembali menjadi korban.
Ia mengatakan sebelumnya anaknya yang bersekolah di SMPN 1 Kragan juga mengalami kejadian serupa dengan gejala cukup berat.
“Saya kaget, dilapori anak saya ikut keracunan. Dulu anak saya yang di SMPN 1 Kragan juga keracunan, sekarang anak saya yang SD. Jadi saya gugup saat dapat kabar tadi,” ungkapnya.
Miyati menjelaskan, pada kejadian sebelumnya anaknya mengalami gejala seperti muntah, diare, dan mual yang berlangsung selama beberapa hari.
“Trauma sekali, sudah dua kali anak-anak saya keracunan MBG. Yang SMP sebelumnya mencret, muntah, mual sampai empat hari,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG. Bahkan, ia mengusulkan agar kebijakan tersebut dialihkan ke program lain yang dinilai lebih berdampak bagi ekonomi keluarga.
“Mending sekarang nggak usah ada MBG. Ciptakan saja lapangan pekerjaan buat bapak-bapaknya, biar ada tambahan pemasukan untuk anaknya,” pungkasnya.
Sebagai informasi, peristiwa serupa pernah terjadi pada September 2025, ketika 173 siswa SMPN 1 Kragan diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG. Saat itu, para siswa dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, pusing, dan sakit perut.
Dalam kejadian terbaru, puluhan siswa sekolah dasar di Kecamatan Kragan kembali diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG dalam rangkaian peringatan Hari Kartini. Para siswa kemudian dibawa ke Puskesmas Kragan II untuk mendapatkan penanganan medis.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Rosyid

































