SEMARANG, Lingkarjateng.id – Sejumlah wilayah di Jawa Tengah masih berstatus Waspada kekeringan meteorologis pada dasarian ketiga Oktober 2026. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat tidak ada lagi kabupaten/kota yang berstatus Siaga maupun Awas.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto mengatakan, status tertinggi peringatan dini kekeringan meteorologis pada periode 21-31 Oktober 2026 saat ini adalah Waspada.
“Status tertinggi adalah Waspada, selebihnya tidak ada peringatan,” ungkapnya, Kamis, 22 Oktober 2026.
Wilayah yang masih berstatus Waspada meliputi Kota Tegal, Pekalongan, dan Semarang. Sementara itu, wilayah kabupaten mencakup Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Temanggung, Semarang, Demak, Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Grobogan, Blora, Boyolali, Klaten, Kebumen, Purworejo, dan Wonogiri.
Goeroeh menjelaskan, berdasarkan analisis curah hujan dasarian kedua Oktober 2026 atau periode 11-20 Oktober, seluruh wilayah Jawa Tengah mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0-50 milimeter per dasarian.
Pemantauan hari tanpa hujan (HTH) hingga 20 Oktober juga menunjukkan kondisi kekeringan yang meluas. Sejumlah wilayah mengalami periode tanpa hujan lebih dari 60 hari, yang masuk kategori kekeringan ekstrem.
Kategori HTH sangat panjang mendominasi wilayah selatan Jawa Tengah. Adapun kategori panjang, dengan periode tanpa hujan 21–30 hari, terpantau di sejumlah titik wilayah timur dan Kabupaten Brebes.
Sementara itu, kategori menengah dengan periode tanpa hujan 11-20 hari tersebar di hampir seluruh wilayah. Kategori pendek selama 6-10 hari mendominasi wilayah utara, sedangkan periode tanpa hujan 1-5 hari terpantau di beberapa titik wilayah tengah.
“Hujan masih tercatat hingga pembaruan terakhir pada 20 Oktober di Kabupaten Banyumas,” ujar Goeroeh.
Berdasarkan hasil pemantauan, periode tanpa hujan terpanjang tercatat di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, selama 172 hari. Berikutnya, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, mengalami 170 hari tanpa hujan.
Adapun Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, dan Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, masing-masing mencatat periode tanpa hujan selama 157 hari.
Curah Hujan Diprakirakan Meningkat pada November
Terkait prakiraan curah hujan yang diperbarui pada 18 Oktober 2026, Goeroeh mengatakan sebagian besar wilayah Jawa Tengah masih berpeluang mengalami curah hujan rendah pada dasarian ketiga Oktober.
“Pengecualian terdapat di sekitar Pegunungan Slamet hingga Dieng dan sekitarnya yang berpeluang mengalami curah hujan kategori menengah, yakni 51–150 milimeter per dasarian,” katanya.
Memasuki dasarian pertama dan kedua November 2026, sebagian besar wilayah Jawa Tengah diprakirakan mengalami curah hujan kategori menengah. Meski demikian, sejumlah wilayah berpotensi menerima curah hujan lebih tinggi.
Wilayah tersebut meliputi bagian utara Kabupaten Banyumas dan Purbalingga serta bagian selatan Kabupaten Batang, dengan potensi curah hujan kategori tinggi sebesar 151–200 milimeter per dasarian.
Pada dasarian ketiga November, peluang curah hujan tinggi diprakirakan meluas ke sebagian besar wilayah Purbalingga, Banjarnegara, bagian utara Banyumas, dan sejumlah wilayah lainnya. Curah hujan pada periode tersebut diprakirakan mencapai 151–300 milimeter per dasarian.
Sementara itu, prediksi probabilistik curah hujan untuk dasarian ketiga Oktober menunjukkan hampir seluruh wilayah Jawa Tengah berpeluang mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter. Pengecualian berlaku di kawasan Pegunungan Slamet hingga Dieng dan sekitarnya yang berpeluang mengalami curah hujan kategori menengah.
BMKG memperkirakan potensi peningkatan curah hujan pada November perlu dicermati, mengingat sebagian wilayah Jawa Tengah masih mengalami periode tanpa hujan yang panjang hingga Oktober 2026.
Jurnalis: Ant































