SALATIGA, Lingkarjateng.id – Kekeringan di Kota Salatiga berdampak pada 4.636 jiwa. Masyarakat mengalami krisis air bersih setelah sejumlah sumur warga mengering, sementara akses jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) belum tersedia di beberapa wilayah.
Hingga saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Salatiga telah menyalurkan 145.000 liter air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Salatiga, Sutarto mengatakan distribusi air bersih terus dilakukan seiring bertambahnya wilayah terdampak kekeringan. Dari target 103 kali pengiriman, BPBD telah merealisasikan 29 kali distribusi.
“Jumlah jiwa terdampak 4.636 jiwa. Total air yang sudah didistribusikan kepada masyarakat Kota Salatiga sebanyak 145.000 liter,” kata Sutarto, Senin, 20 Oktober 2026.
Salah satu wilayah yang mengalami kekeringan adalah Druju RT 01 dan RT 02 RW 03, Kelurahan Sidorejo Kidul, Kecamatan Tingkir. Warga di wilayah tersebut masih mengandalkan sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, sumur-sumur warga mengering, sedangkan jaringan PDAM belum terpasang.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, BPBD menyiapkan tandon berkapasitas 5.000 liter dan menjadwalkan pengiriman air tiga kali dalam sepekan. Setiap pengiriman menggunakan mobil tangki berkapasitas 5.000 liter.
“Di Bruju belum ada yang memasang PDAM. Warga hanya menggunakan sumber air sumur, tetapi tahun ini sumurnya asat atau tidak ada airnya,” ujarnya.
Kekeringan juga berdampak pada fasilitas pendidikan di Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo. MI Islamiyah yang mengandalkan air sumur bahkan telah berupaya memperdalam sumur, tetapi air tetap tidak keluar.
BPBD kemudian menyediakan tandon berkapasitas 5.000 liter di sekolah tersebut. Hingga kini, bantuan air yang telah disalurkan mencapai 10.000 liter.
Sementara itu, di Kelurahan Sidorejo Kidul, BPBD telah menyalurkan 30.000 liter air atau tiga kali pengiriman menggunakan mobil tangki. Bantuan juga disalurkan ke kompleks Kantor Kecamatan Sidomukti, KUA, dan Polsek Sidomukti di Kelurahan Mangunsari sebanyak 5.000 liter.
Sutarto menegaskan, distribusi air bersih akan terus dilakukan hingga kebutuhan masyarakat terpenuhi dan warga tidak lagi mengalami kekurangan air.
“Untuk menjaga ketersediaan pasokan, BPBD memanfaatkan sumber air dari PDAM serta alternatif sumber air di wilayah Kabupaten Semarang,” terangnya.
BPBD juga berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengantisipasi kendala dalam pendistribusian air.
Berdasarkan informasi BMKG yang disampaikan Sutarto, curah hujan di Kota Salatiga pada November 2026 diperkirakan berada pada kategori sedang. Sementara itu, hujan lebat diperkirakan terjadi pada Desember 2026.
“Dengan kondisi tersebut, distribusi air bersih masih menjadi langkah penanganan untuk membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari selama kekeringan berlangsung,” ujarnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Sekar





























