Semarang (lingkarjateng.id) – Warga Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, masih harus berjuang mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut sudah dirasakan selama empat bulan mengalami kekeringan dampak musim kemarau berkepanjangan.
Banyak sumur warga mengering, aliran sungai ikut surut, sementara bantuan air tangki menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Sejak Juli, Agustus, September, Oktober, kering semuanya,” ujar Supriyanto warga RT 1 RW 4 Kelurahan Jabungan saat ditemui, Minggu (18/10).
Ia mengungkapkan, warga terpaksa memanfaatkan air sungai untuk memenuhi sebagian kebutuhan sehari-hari. Padahal, kondisi sungai juga mulai mengering dan airnya tidak layak digunakan. “Kalau untuk mandi, buang air, itu kita ngangsu air dari kali,” ungkapnya.
“Sedangkan untuk minum, masak. Kami siapkan galon-galon untuk persiapan berhari-hari, saat bantuan datang lagi. Kalau air habis, kami telepon Pak Lurah,” sambungnya.
Situasi tersebut semakin membebani warga yang sebagian bekerja sebagai pekerja proyek. Pengeluaran untuk membeli air menjadi beban tambahan yang harus diperhitungkan. “Untuk beli air galon saja rasanya eman-eman,” beber Supriyanto.
Di tengah kondisi itu, warga tidak hanya membutuhkan bantuan sesaat. Mereka menuntut akses air bersih yang lebih pasti agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau. “Harapannya ada bantuan air dari artesis atau PDAM sampai ke warga,” tegasnya.
Warga Jabungan lainnya, Fathonah mengaku kesulitan untuk sekedar mandi, apalagi untuk minum dan memasak. “Saya mandi itu di tempat kerja, kemarin sempat hujan sehari, air saya wadahi malah bacin jadinya, ya hanya bisa mengandalkan bantuan,” ucapnya.
Sementara itu, Lurah Jabungan, Muchammad Chasani, mengakui dampak kekeringan semakin meluas setelah hujan tak kunjung turun selama beberapa bulan. Menurutnya, perubahan paling nyata terlihat dari cepat habisnya pasokan bantuan air bersih.
Jika sebelumnya satu tangki mampu memenuhi kebutuhan warga selama dua hingga tiga hari, kini air sebanyak itu hanya bertahan sehari. “Dulu itu untuk dropping air, satu tangki bisa untuk dua sampai tiga hari. Sekarang, kemarin saya dapat laporan, dropping satu tangki itu sehari selesai. Artinya, sudah diambil warga semua,” jelas Chasani.
Hal tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan air bersih di Jabungan. Bantuan yang datang langsung terserap warga, sementara kebutuhan terus berjalan setiap hari.
Chasani menyebut RW 3, RW 4, dan RW 5 sebagai wilayah utama terdampak kekeringan. RW 3 menjadi salah satu kawasan terparah karena sumur warga telah mengering secara merata. “RW 3 itu merata, artinya memang sumur warga sudah kering,” katanya.
Ia memperkirakan sekitar 1.000 kepala keluarga (KK) terdampak. Namun, angka tersebut masih perlu dipastikan berdasarkan pendataan warga di wilayah terdampak.
Selama ini, bantuan air bersih berasal dari sejumlah pihak, di antaranya BPBD Kota Semarang dan PMI. Meski bantuan terus disalurkan, distribusi air tangki belum menghilangkan ketergantungan warga terhadap bantuan dari luar.
Persoalan mendasar di Jabungan adalah akses air bersih yang belum merata. Ketika sebagian warga masih mengandalkan sumur, kekeringan membuat sumber air tersebut tidak lagi dapat diandalkan.

Chasani mengatakan perluasan jaringan PDAM saat ini dilakukan di RW 3 dan RW 4. Sementara RW 5 belum mendapatkan jaringan tersebut. “Kalau aliran PDAM saat ini memang ada perluasan jaringan ya di RW 3 sama RW 4. Yang RW 5 belum ada,” ungkapnya.
Pemerintah Kota Semarang juga merencanakan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) bagi wilayah yang belum terjangkau PDAM.
Chasani mengaku telah menerima instruksi Wali Kota Semarang untuk menyiapkan sumber daya manusia yang akan mengelola program tersebut di wilayah terdampak. “Kalau memungkinkan, ya proyeknya biasa tahun ini, tapi ini kan juga sudah akhir tahun,” katanya.
Akan tetapi, Chasani menegaskan, perluasan jaringan PDAM menjadi harapan utama agar warga tidak terus bergantung pada distribusi air tangki. “Harapan kami segera ada perluasan jaringan PDAM. Dengan perluasan jaringan PDAM, warga bisa mendapatkan air bersih secara merata sehingga kekeringan ini dapat teratasi,” tegasnya.
Ia juga menyebut kekeringan serupa pernah terjadi pada 2023. Berulangnya persoalan tersebut memperlihatkan pentingnya langkah antisipasi agar warga tidak kembali menghadapi krisis air ketika kemarau datang.
Di tengah kebutuhan air yang mendesak, bantuan kembali disalurkan ke Jabungan. Ketua DPC Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Kota Semarang, Ahmad Reza Fahruddin, mengatakan sebanyak empat tangki air bersih didistribusikan kepada warga, dengan salah satunya merupakan bantuan dari PDAM Kota Semarang.
“Alhamdulillah kita dapat menyalurkan air bersih, terutama di daerah Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang,” kata Reza.
Ia mengaku prihatin karena warga masih mengalami kekeringan akibat kemarau panjang. Reza juga menyampaikan terima kasih kepada PDAM dan Pemerintah Kota Semarang yang ikut mendukung penyaluran bantuan.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada PDAM Kota Semarang dan Pemerintah Kota Semarang yang setelah ini mungkin akan ada bantuan-bantuan lain ketika masih ada kekeringan di Kota Semarang,” ujarnya. (Lingkar Network/Syahril)***
Editor : Adi Arfian



























