GROBOGAN, Lingkarjateng.id – Anggota Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, mendorong kawasan wisata budaya Candi Joglo Semar di Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, dikembangkan seperti Desa Panglipuran di Bali.
Dorongan tersebut disampaikan saat Evita melakukan kunjungan kerja ke Candi Joglo Semar pada Minggu, 21 Juni 2026.
Dalam kunjungan itu, ia juga menyaksikan penyerahan satu set gamelan Bali bantuan Pemerintah Provinsi Bali yang akan memperkuat konsep akulturasi budaya Jawa dan Bali di kawasan wisata tersebut.
Menurut Evita, konsep pengembangan desa wisata berbasis budaya memiliki potensi besar diterapkan di Krangganharjo. Ia menilai keberhasilan Desa Panglipuran menunjukkan bahwa budaya masyarakat dapat menjadi daya tarik utama pariwisata tanpa harus mengandalkan potensi alam.
Selain meninjau kawasan wisata, Evita juga menyaksikan berbagai pertunjukan seni yang ditampilkan di Candi Joglo Semar, mulai dari tari Bali hingga wayang orang yang selama ini menjadi salah satu atraksi unggulan destinasi tersebut.
Dalam kesempatan itu, ia mengaku terkesan dengan perkembangan kawasan wisata yang dinilai terus menghadirkan inovasi baru.
“Saya sudah berulang kali datang ke sini dan selalu ada yang baru. Ada wayang orang, tarian khas Bali, dan berbagai kesenian yang menjadi ciri khas tempat ini,” ujarnya.
Evita menilai perpaduan budaya Jawa dan Bali yang dikembangkan di Candi Joglo Semar merupakan langkah positif yang perlu mendapat dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak.
Ia menyebut bantuan gamelan Bali menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas budaya yang sedang dibangun. Namun, menurutnya, pengembangan sarana kesenian perlu terus dilengkapi.
“Sudah ada bantuan gamelan Bali. Selanjutnya perlu dipikirkan bagaimana menghadirkan gamelan Jawa sehingga kolaborasi budaya Jawa dan Bali di sini semakin lengkap,” katanya.
Menurutnya, keberadaan gamelan Bali tidak hanya memperkaya atraksi wisata, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pendidikan budaya bagi generasi muda.
“Candi Joglo Semar dan gamelan Bali ini bukan hanya aset wisata, tetapi juga ruang belajar budaya yang dapat mempererat hubungan budaya Jawa dan Bali bagi generasi mendatang,” ungkapnya.
Sementara itu, Pengelola Candi Joglo Semar Purwodadi, Muhadi, menyambut baik dukungan yang diberikan DPR RI maupun Pemerintah Provinsi Bali terhadap pengembangan kawasan wisata budaya tersebut.
Menurutnya, bantuan gamelan Bali menjadi penguatan nyata terhadap konsep akulturasi budaya yang selama ini dibangun bersama masyarakat setempat.
“Bantuan ini menjadi bentuk dukungan nyata terhadap upaya pelestarian budaya yang kami lakukan bersama warga,” ujarnya.
Muhadi menilai gagasan pengembangan desa wisata yang terinspirasi dari Desa Panglipuran sangat memungkinkan diterapkan di Desa Krangganharjo.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dapat diwujudkan melalui pemanfaatan rumah warga, pengembangan produk UMKM, serta penyelenggaraan berbagai kegiatan budaya yang menjadi identitas desa.
Ia berharap dukungan berbagai pihak dapat mempercepat pengembangan Candi Joglo Semar sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Kabupaten Grobogan sekaligus pusat pelestarian budaya yang berkelanjutan di Jawa Tengah.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Rosyid
































