DEMAK, Lingkarjateng.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Demak menyusun standar operasional prosedur (SOP) untuk peningkatan mutu pengelolaan museum.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Demak, Isman, mengatakan pengelolaan museum membutuhkan standar kerja yang jelas agar setiap aktivitas dapat dilaksanakan secara tertib dan profesional.
“Keberadaan SOP sangat penting agar setiap pekerjaan memiliki standar, alur, serta rambu-rambu yang jelas. Dengan demikian, pelaksanaan tugas dapat berjalan lebih tertib, terukur, dan memiliki acuan yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya, Kamis, 5 November 2026.
Isman mengatakan SOP yang disusun tidak boleh hanya menjadi dokumen administratif, tetapi benar-benar diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Evaluasi secara berkala juga diperlukan agar prosedur yang dibuat tetap relevan dengan kebutuhan dan perkembangan pengelolaan museum.
Sementara itu, Plt UPTD Museum Glagah Wangi, Didik Agus SP, mengungkapkan masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan permuseuman di Demak.
“Museum Glagah Wangi saat ini tengah menjalani proses revitalisasi oleh Kementerian Kebudayaan. Menurutnya, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh, mulai dari sarana dan prasarana, pengelolaan koleksi, hingga peningkatan kapasitas SDM,” katanya.
SOP pengelolaan museum yang sedang disusun salah satunya yakni prosedur peminjaman koleksi. Pedoman ini diperlukan untuk memberikan kejelasan terkait mekanisme, persyaratan, serta tanggung jawab dalam proses peminjaman benda koleksi museum.
Didik berharap pembahasan tersebut menjadi langkah awal untuk menyelesaikan SOP peminjaman koleksi sekaligus mendorong penyusunan berbagai prosedur lain yang dibutuhkan dalam pengelolaan Museum Glagah Wangi.
Budayan Kabupaten Demak, Ahmad Widodo, menilai peningkatan kualitas pengelolaan museum harus diimbangi dengan dukungan anggaran dan ketersediaan sumber daya manusia yang memadai.
Menurutnya, museum membutuhkan tenaga pengelola yang kreatif, inovatif, serta memiliki wawasan luas agar potensi koleksi dapat dikembangkan secara optimal. Dengan begitu, penyampaian informasi sejarah kepada masyarakat tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga menarik dan mudah dipahami.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa
































