KENDAL, Lingkarjateng.id – Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kendal terus mengejar pembentukan dan pengembangan desa wisata.
Hingga September 2026, sebanyak 21 desa telah berstatus sebagai desa wisata dan ditargetkan bertambah menjadi 30 hingga akhir Desember 2026.
Kepala Bidang Pariwisata Disporapar Kendal, Ahmad Syahrul Falah, mengatakan dalam waktu dekat jumlah desa wisata akan bertambah lantaran Desa Kalikesek direncanakan menerima Surat Keputusan (SK) sebagai desa wisata pada 19 September 2026. Selain itu, Desa Montongsari, Kecamatan Weleri, juga tengah dipersiapkan untuk menjadi desa wisata.
“Sekarang sudah ada 21 desa wisata dan akan menjadi 22 karena Kalikesek rencananya menerima SK pada 19 September. Kemudian sebentar lagi Desa Montongsari Weleri. Harapannya sampai akhir Desember 2026 sudah terkumpul 30 desa wisata di Kabupaten Kendal,” ujar Syahrul.
Adapun desa wisata diproyeksikan untuk memperkuat sektor pariwisata berbasis potensi lokal sekaligus mendukung target Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk membentuk 1.000 daya tarik wisata melalui desa wisata pada 2027.
Menurutnya, pengembangan desa wisata tidak harus selalu bertumpu pada destinasi wisata besar. Setiap desa memiliki potensi yang bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata apabila dikemas dan dikelola secara bersama-sama.
“Kami berharap desa-desa itu tidak pesimis. Jangan berpikiran karena desa tidak mempunyai destinasi, sehingga tidak bisa menjadi desa wisata,” tegasnya.
Wahana Olahraga Ekstrem Canyoning di Curug Sewu Kendal Kembali Dibuka
Konsep desa wisata memungkinkan adanya kolaborasi antardesa. Sebuah desa bisa mengandalkan destinasi alam, sementara desa di sekitarnya mengembangkan potensi kuliner, kesenian tradisional, kerajinan maupun ekonomi kreatif dan lain sebagainya.
“Misalnya Kalikesek sudah punya destinasi wisata, sebelahnya ada Pagertoyo yang memiliki kuliner. Kulinernya bisa diangkat. Atau ada barongan, jathilan, kuda lumping, itu juga bisa diangkat,” jelasnya.
Selain itu, aktivitas ekonomi kreatif pada kesenian tradisional desa setempat juga berpotensi menjadi bagian dari paket wisata.
“Pembuatan barongan juga bisa diangkat sebagai ekonomi kreatif, oande besi juga bisa. Jadi tidak harus semuanya mempunyai destinasi alam,” katanya.
Syahrul menilai semakin banyak desa wisata yang berkembang, semakin besar pula peluang masyarakat memperoleh manfaat ekonomi. Kehadiran wisatawan diharapkan mampu menggerakkan UMKM, kuliner, homestay, kerajinan hingga berbagai produk ekonomi kreatif.
“Kalau desa wisata bergerak, harapannya memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Wisatawan datang, kemudian UMKM, kuliner, homestay dan ekonomi kreatif masyarakat ikut bergerak,” ujarnya.
Syahrul juga mengapresiasi dukungan DPRD Kendal, khususnya Komisi D, yang turut mendorong pengembangan desa wisata melalui aspirasi masyarakat.
“Seperti Mas Syarif Hidayatullah, Ibu Paramita Atika Putri, Bapak Rizky Aritonang, Rizki Oktavianti yang terus mendorong pengembangan potensi-potensi yang dimiliki desa,” pungkasnya. (Adv)
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Ulfa
































