Demak (lingkarjateng.id) – Lahan pertanian di Kecamatan Mranggen dan Karangawen Kabupaten Demak di tanami jagung mengalami penurunan produktivitas hingga 50 persen akibat kemarau panjang menyebabkan petani merugi.
Para petani mengaku tanaman jagung miliknya tidak dapat tumbuh dan berbuah secara maksimal akibat minimnya pasokan air selama masa pertumbuhan. Sejumlah tanaman bahkan tidak mampu menghasilkan buah.
Sementara tanaman yang masih berbuah menghasilkan jagung berukuran kecil atau mengalami stunting.
“Banyak tanaman jagung tidak berbuah. Kalaupun berbuah, tidak maksimal dan buahnya kecil. Salah satu faktornya karena kurangnya pasokan air selama masa pertumbuhan,” kata Hambali, salah seorang petani di Desa Sumberejo, Mranggen.
Menurut Hambali, produktivitas hasil panen saat ini mengalami penurunan. Sebab, tanaman jagung membutuhkan cukup air pada fase pertumbuhan hingga pembentukan buah. Namun, kondisi kekeringan membuat kebutuhan tersebut tidak terpenuhi.
“Produktivitasnya jelas menurun. Pada masa pertumbuhan tanaman membutuhkan air, tetapi sekarang tidak ada air karena kekeringan,” tuturnya.
Ia mengungkapkan petani sudah berupaya mengatasi kekurangan air dengan menggunakan pompa atau mesin penyedot. Namun, upaya tersebut terkendala karena sumber air yang tersedia juga minim.
“Petani sebenarnya mau menggunakan sedot, tetapi airnya tidak ada. Terutama di wilayah Kecamatan Mranggen, kami tidak mendapatkan manfaat air dari bendung secara maksimal,” ungkapnya.
Hambali menyebut, jika dalam kondisi normal satu hektare lahan jagung dapat menghasilkan sekitar 1,5 ton, namun saat ini hasil panen diperkirakan hanya sekitar lima kuintal per hektare.
“Kalau biasanya satu hektare bisa mendapatkan 1,5 ton, sekarang lima kuintal saja tidak terpenuhi. Penurunannya sekitar 50 persen dan tentu menjadi kerugian bagi petani,” katanya.
Ditambahkan, kondisi tanaman yang mengalami kekurangan air terlihat dari ukuran buah yang jauh lebih kecil dibandingkan kondisi normal.
“Ini padahal aslinya jagung besar, tetapi karena sejak awal tanam sampai sekarang kekurangan pasokan air, buahnya menjadi kecil. Iya kayak stunting. Jadi yang mengalami stunting tidak hanya anak, tanaman jagung juga bisa stunting karena kekurangan air,” jelasnya.
Hambali berharap persoalan ketersediaan air pertanian mendapat perhatian pemerintah, terlebih sektor pertanian menjadi salah satu penopang ketahanan pangan. Menurutnya, upaya mewujudkan ketahanan pangan perlu dibarengi dengan perhatian terhadap kebutuhan dasar petani, terutama ketersediaan sarana dan prasarana pengairan.
“Bagaimana bisa mewujudkan Asta Cita Presiden terkait ketahanan pangan kalau petaninya tidak diperhatikan? Kami berharap persoalan pengairan juga menjadi perhatian,” tegasnya.
“Harapan kami ada normalisasi Bendung Mbarang. Bendung ini hulunya sampai ke Rawa Pening. Sudah hampir 45 tahun tidak pernah tersentuh normalisasi,” imbuhnya. (Lingkar Network / Burhan)
Editor : Adi Arfian
































