SEMARANG, Lingkarjateng.id – Jalan perkampungan di kawasan Jembawan I RT 06/RW 01, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang dilaporkan ambles dan mengancam permukiman warga. Peristiwa ini diduga dipicu oleh melemahnya tanggul Sungai Silandak yang tidak mampu menahan struktur tanah di sekitarnya.
Jalan ambles terjadi sepanjang kurang lebih 20 meter dengan kedalaman mencapai dua meter. Lokasi kerusakan berada tidak jauh dari tanggul sungai, sehingga berpotensi membahayakan sedikitnya empat rumah di sekitarnya.
Salah satu warga, Projo, menyebut tanda-tanda kerusakan sebenarnya telah muncul sejak lama. Retakan kecil mulai terlihat sebelum akhirnya kondisi memburuk pada Selasa siang, 5 Mei 2026, ketika tanah dan badan jalan mengalami penurunan.
“Kemarin Selasa siang, mulai ada retakan parah dan mulai ambles. Malamnya tambah parah dan amblesnya semakin dalam, awalnya memang sudah retak,” katanya, Rabu, 6 Mei 2026.
Ia menduga kerusakan tanggul dipengaruhi aktivitas ikan sapu-sapu yang melubangi bagian dasar tanggul hingga merusak pondasi.
Dari pengamatan di lokasi, ikan sapu-sapu memang terlihat cukup banyak di aliran sungai. Warga meyakini aktivitas ikan tersebut mempercepat kerusakan struktur tanggul.
“Dugaan kami ikan sapu-sapu nggerongi, di pondasi tanggul sampai masuk ke bawah jalan, akhirnya ambles,” jelasnya.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bagi warga, terutama mereka yang rumahnya berada sangat dekat dengan titik ambles.
Projo mengaku rumah yang ditempatinya hanya berjarak sekitar satu meter dari lokasi jalan yang rusak.
Selain itu, tingginya curah hujan juga memperbesar kekhawatiran akan potensi longsor susulan dan luapan air sungai ke permukiman. Mengingat, kejadian serupa pernah terjadi pada dekade 1980-an ketika tanggul jebol dan menyebabkan banjir di satu kampung.
“Dulu tahun 1980-an sempat jebol, satu kampung terdampak banjir. Ini buat kami warga disini ketar-ketir jika tidak segera ditangani,” tuturnya.
Warga berharap pemerintah segera melakukan penanganan terhadap tanggul dan jalan yang rusak. Menurut Projo, sejumlah pihak dari dinas terkait sebelumnya telah melakukan peninjauan, namun belum ada langkah konkret perbaikan.
“Beberapa kali sudah ada di survei, ditinjau berbeda Dinas saat ada retakan, tadi juga ada yang kesini, harapan kami segera ada tindakan pasti,” katanya.
Hal senada disampaikan Mamik, warga lainnya, yang rumahnya berjarak sekitar 50 sentimeter dari lokasi ambles. Ia mengaku sempat merasakan getaran saat kejadian berlangsung.
“Kalau retaknya sudah lama, anak saya sempet nambal dengan semen karena tahunya tidak dalam, tapi ternyata sampai ambles cukup dalam,” katanya.
“Sekitar pukul 11, ada kayak lindu, kemudian ada suara gemuruh ternyata jalan sudah ambles,” bebernya.
Mamik berharap perbaikan segera dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih luas.
“Katanya gara-gara ikan sapu-sapu yang melubangi tanggul, growong kemudian ambles. Harapan saya segera dilakukan perbaikan atau penguatan tanggul,” ujarnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid






























