DEMAK, Lingkarjateng.id – Ratusan santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Asnawiyah, Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, diduga mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Sabtu, 18 April 2026.
Peristiwa bermula saat para santri yang bersekolah di Yayasan YASUA Pilangwetan menerima paket MBG berupa nasi goreng. Beberapa jam setelah mengonsumsi makanan tersebut, sejumlah santri mulai merasakan gejala seperti sakit perut, pusing, mual, hingga muntah.
Kondisi memburuk pada keesokan harinya, ketika jumlah santri yang mengalami gejala terus bertambah. Bahkan, sebagian di antaranya harus mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Pengasuh ponpes, Kiai Cholilullah, mengungkapkan kejadian mulai terdeteksi sejak Sabtu malam.
“Malam itu sudah ada yang mulai mual, muntah, berak, bahkan ada juga yang sesek dan ada satu santri yang sudah kita larikan ke RSUD Getas Pendhowo Gubug, itu karena sesak dan mual, kemudian ketika pagi baru kita tahu ternyata yang sakit itu banyak. Dari situ ada informasi dari ustadzah kalau dia menyimpulkan kemungkinan besar dari MBG,” ujarnya, Minggu, 19 April 2026.
“Dari situ, saya juga tanya-tanya ke pesantren sekitar itu juga ternyata sama, kasusnya banyak yang keracunan,” sambungnya.
Ia menyebutkan, sedikitnya 102 santri terdampak dalam kejadian tersebut. Dari jumlah itu, 29 santri harus dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Makanannya itu nasi goreng, lauknya telur dan tahu, ada acarnya juga kayaknya, dan ada susunya juga,” katanya.
Pihak ponpes kemudian mengamankan sampel makanan yang dikonsumsi santri dan melaporkannya ke puskesmas setempat. Petugas kesehatan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Demak serta tim Dokkes Polres Demak langsung turun ke lokasi untuk melakukan penanganan dan penyelidikan.
Salah satu santri, Ahmad Andika Pratama, mengaku mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan tersebut.
“Saya makan nasi goreng MBG di tempat setelah dibagikan. Awalnya sore hari mulai terasa mules, lalu pagi harinya baru terasa diare. Teman-teman yang lain juga ada yang muntah,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kondisinya kini mulai membaik setelah sebelumnya mengalami diare.
“Sekarang sudah mendingan,” katanya.
Kepanikan juga dirasakan para orang tua santri. Salah satu wali santri, Isfaris Mega Agustina, mengaku langsung menuju rumah sakit setelah mendapat kabar anaknya mengalami gejala serupa.
“Setelah sholawatan, anak saya mengeluh perut sakit, pusing, mual, dan muntah sejak tadi malam. Pagi tadi saya dikabari pihak pondok, lalu langsung ke rumah sakit,” ungkapnya.
Isfaris menyebut gejala tersebut muncul setelah anaknya mengonsumsi makanan dari program MBG.
“Sebelumnya makan nasi goreng, telur sama tahu. Iya (MBG). Makannya pas istirahat sekolah sekitar jam 9.30 WIB. Malamnya mual, muntah,” ungkapnya.
Ia berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan program MBG ke depan lebih memperhatikan aspek keamanan pangan.
“Kalau saya menanggapi ini ya, dapat MBG ya alhamdulillah. Tapi kalau ada nasib seperti ini saya juga menyayangkan. Semoga nanti SPPG nya nanti kedepan bisa dievaluasi dan bisa lebih baik. Tolong diperhatikan,” harapnya.
Hingga kini, sebagian santri masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, sementara lainnya mulai berangsur pulih. Pihak terkait masih melakukan penyelidikan guna memastikan penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut.
Jurnalis: M. Burhanuddin Aslam
Editor: Rosyid
































