Demak (lingkarjateng.id) – Shokib, seorang ayah sekaligus warga Dukuh Tambaksari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Rumahnya hancur akibat dihantam kapal tongkang raksasa yang hanyut di perairan setempat beberapa waktu lalu.
Kini, tempat tinggal yang selama ini ia bangun susah payah telah rata dengan air asin. Dengan pandangan tak lepas dari garis cakrawala, Shokib berdiri menatap lokasi yang dulu pernah menjadi rumahnya.
Di tempat itulah tawa anak-anaknya pernah terdengar, tempat keluarganya berlindung dari panas dan hujan. Namun kini, yang tersisa hanyalah puing-puing bercampur air laut. “Tidur di masjid. Sudah semingguan. Rumahnya dihuni tujuh orang, semuanya sekarang di masjid,” ujarnya lirih.
Di ujung senja, langit perlahan meredup. Matahari turun pelan menuju peraduannya, meninggalkan semburat jingga yang biasanya menenangkan hati. Namun bagi Shokib, senja kali ini terasa begitu berat.
Rumah sederhana yang selama ini ia bangun dengan kerja keras kini hancur. Bukan karena badai besar, bukan pula karena ombak yang tiba-tiba mengamuk. Rumah itu roboh setelah dihantam kapal tongkang raksasa yang hanyut terbawa gelombang.
“Penyebabnya adalah tongkang itu,” kata Shokib singkat sambil menatap besi raksasa yang mulai menjauhi rumahnya.
Ramadan yang seharusnya menjadi bulan penuh berkah dan ketenangan justru berubah menjadi ujian berat baginya. Hari kemenangan semakin dekat, tetapi rumah tempat ia pulang kini telah hilang.
Di tengah senja yang semakin gelap, Shokib hanya bisa berdiri diam menatap sisa-sisa rumahnya, menahan sesak yang tak mampu lagi ia sembunyikan.
Ramadan tahun ini akan menjadi kenangan yang tak mudah ia lupakan. Entah suatu saat akan ia ceritakan sebagai kisah tentang kekuatan dan keikhlasan, atau justru sebagai luka yang selalu terasa setiap kali diingat.

Setelah kapal tongkang tersebut akhirnya berhasil dievakuasi, Shokib mengaku sedikit lega. Namun ia berharap ada tanggung jawab yang jelas atas kerusakan yang dialami warga.
“Harapannya seperti semula, punya rumah lagi. Kalau nggak ada rumah ya susah, bingung,” harapnya.
Seperti warga lainnya, Shokib sebelumnya membayangkan Idul Fitri tahun ini akan datang dengan kebahagiaan. Mereka ingin merayakannya dengan saling berkunjung dari rumah ke rumah, bersilaturahmi, berbagi makanan, dan berkumpul bersama keluarga. Tapi kenyataan berkata lain.
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas umum dan infrastruktur di Dukuh Tambaksari juga mengalami kerusakan parah. Salah satunya adalah akses jalan dan jembatan yang biasa digunakan warga maupun pengunjung untuk menuju wisata religi Makam Terapung Syekh Mudzakir.
Selama bulan Ramadan, jumlah peziarah memang cenderung sepi. Namun setelah Lebaran, kawasan tersebut biasanya ramai dikunjungi peziarah.
Mayoritas warga di dukuh itu menggantungkan penghasilan dari aktivitas tersebut. Sebagian menjadi ojek perahu yang mengantar peziarah ke makam, sementara lainnya membuka warung kecil yang menjual makanan, minuman, dan berbagai jajanan.
Namun dengan rusaknya infrastruktur, harapan itu kini ikut memudar.
“Yang bapak-bapak biasanya jadi pengojek perahu, yang ibu-ibu berjualan di rumah,” kata Marfuah, salah seorang warga Dukuh Tambaksari.
Menurutnya, jumlah peziarah ke Makam Terapung Syekh Mudzakir biasanya melonjak saat Idul Fitri. Namun tahun ini kondisinya berbeda karena jembatan penghubung dari permukiman warga menuju makam tersebut rusak.
“Soalnya peziarah nanti biasanya lewat sini. Tapi sekarang jembatannya putus,” ujarnya.
Meski makam tersebut masih bisa diakses langsung menggunakan perahu, putusnya jembatan membuat sejumlah pedagang kehilangan kesempatan untuk berjualan kepada para peziarah.
“Dampaknya besar. Banyak yang enggak bisa jualan. Memang perahu bisa langsung ke makam, tapi tetap rugi karena peziarah nanti tidak lewat sini,” pungkas Marfuah.
Kini warga hanya bisa berharap ada perhatian dan tanggung jawab dari pihak terkait atas insiden yang menimpa kampung mereka.
Di tengah puing-puing rumah dan jalan yang rusak, mereka masih menyimpan harapan sederhana, bisa kembali memiliki rumah, memperbaiki kehidupan, dan menyambut hari raya dengan sedikit ketenangan.***
Jurnalis : Burhan
Editor : Fian































